Menurut dia, relief di Candi Penataran memiliki cerita dan makna yang luas. Karena itu, Cakra Asih mencoba menerjemahkan bagian-bagian dari relief tersebut ke dalam pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat. “Teatrikal atau tarian dari kisah bersumber pada relief yang ada di Penataran. Setiap Cakra Asih digelar selalu berbeda cerita, tapi pada umumnya tentang kisah pewayangan,” katanya.
Konsep cerita tersebut tidak hanya berhenti di atas panggung. Hidangan yang disajikan juga disesuaikan dengan alur pertunjukan. “Kalau di Cakra Asih itu melihat teatrikal, kemudian kita berikan menu-menu makanan yang sesuai dengan alur cerita. Jadi menyesuaikan semua,” tutur Rani.

Sejumlah menu bahkan diberi nama yang memperkuat nuansa kerajaan dan kisah pewayangan, seperti Ayam Kemul, Rempah Keraton, serta Dendeng Bara Setyaki. Konsep serupa diterapkan pada interior ruangan. Dekorasi dibuat mengikuti cerita yang dibawakan pada malam pertunjukan. “Malam ini seperti peperangan melawan kesombongan. Kita dekorasinya seperti kerajaan,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, Cakra Asih tidak sekadar menawarkan makanan, tetapi berusaha membangun sebuah pengalaman yang menyatukan kuliner dan seni pertunjukan. Pertunjukan ini juga tidak digelar setiap hari. Menurut Marsud, agenda Cakra Asih diselenggarakan sekitar dua bulan sekali, dengan cerita yang dapat berubah pada setiap penyelenggaraan. Bagi pengunjung, pengalaman tersebut meninggalkan kesan tersendiri.
Kimberly Sugiantoro, Miss Chinese Indonesia 2022, mengaku baru pertama kali datang ke Blitar sekaligus mencicipi pengalaman bersantap di Cakra Asih. “Ini kali pertama saya datang ke Blitar dan juga kali pertama datang ke Cakra Asih,” katanya. Kimberly mengetahui Cakra Asih melalui media sosial.
Ia kemudian menghubungi pengelola untuk menanyakan kemungkinan adanya pertunjukan pada Agustus. “Yang paling berkesan buat saya adalah pelayanan dan juga pertunjukannya. Dari awal saya menemukan Cakra Asih melalui media sosial. Kemudian saya iseng-iseng chat, ‘Kak, ada pertunjukan enggak kira-kira di bulan Agustus?’ Kemudian teman-teman dari Cakra Asih memberikan kesempatan,” ujarnya.
Menurut Kimberly, salah satu hal yang membuat pengalaman tersebut semakin berkesan adalah perhatian pengelola terhadap kebutuhan pengunjung, termasuk dalam hal pilihan makanan. “Buat saya ini sebuah hal yang jarang ditemukan, khususnya di Indonesia yang belum paham tentang vegetarian friendly. Tapi bisa disiapkan, ready, dan penampilannya juga tidak kalah dari pelayanannya,” ungkapnya.
Ia bahkan mengaku pertunjukan tersebut mampu menyentuh sisi emosional dirinya dan keluarga. “Benar-benar menyentuh. Saya dan keluarga bahkan terharu sekali dan menitikkan air mata,” kata Kimberly.
Editor : Yoyok Agusta Kurniawan