Menu Unik Jadi Daya Tarik di Blitar, Sajian Kuliner Dipadukan Suasana Kerajaan
BLITAR, iNewsSidoarjo.id — Menikmati hidangan di restoran biasanya identik dengan duduk, memesan makanan, lalu menyantapnya hingga selesai. Namun, pengalaman berbeda dapat ditemukan di salah satu Resto di Pendopo Ageng Hand Asta Sih, Srengat, Kabupaten Blitar. Kamis (20/8/2026) malam.
Di tempat ini, makan malam dikemas sebagai sebuah perjalanan memasuki dunia kerajaan, lengkap dengan teatrikal, tarian, tata cahaya, hingga sajian yang disesuaikan dengan alur cerita yang dikemas dalam Cakra Asih Teatrical Fine dining.
Begitu memasuki ruangan, pengunjung tidak langsung merasakan atmosfer restoran pada umumnya. Interior didesain menyerupai suasana kerajaan. Ornamen, tata ruang, hingga busana pelayan dibuat selaras dengan cerita yang sedang dibawakan. Pengunjung pun tidak sekadar ditempatkan sebagai pelanggan. Mereka seolah menjadi bagian dari kisah yang berlangsung di hadapan meja makan. Ketika pertunjukan dimulai, suasana semakin hidup. Para penampil menyuguhkan teatrikal dan tarian yang terinspirasi dari kisah pewayangan serta relief yang terdapat di Candi Penataran, salah satu peninggalan sejarah penting di Blitar.
Gerakan para penari menerjemahkan kisah yang selama ini terpahat dalam relief menjadi sebuah pertunjukan yang dapat dinikmati secara langsung. Musik dan permainan lampu warna-warni kemudian memperkuat suasana. Cahaya diatur mengikuti jalannya cerita. Dalam sekejap, ruang makan berubah layaknya panggung teater. Perpaduan antara makanan, musik, tari, cahaya dan dekorasi membuat santap malam menjadi pengalaman multisensori.
Marsud Dwiningsih Warani, Manager Pendopo Ageng Hand Asta Sih mengatakan, konsep tersebut memang dirancang untuk mengangkat kisah yang bersumber dari relief Candi Penataran. “Kalau Cakra Asih, cakranya sendiri sebenarnya senjatanya Krishna. Yang kita tunjukkan di sini, yang kita angkat ceritanya mengenai Krishna yang ada di relief Candi Penataran,” ujarnya.
Menurut dia, relief di Candi Penataran memiliki cerita dan makna yang luas. Karena itu, Cakra Asih mencoba menerjemahkan bagian-bagian dari relief tersebut ke dalam pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat. “Teatrikal atau tarian dari kisah bersumber pada relief yang ada di Penataran. Setiap Cakra Asih digelar selalu berbeda cerita, tapi pada umumnya tentang kisah pewayangan,” katanya.
Konsep cerita tersebut tidak hanya berhenti di atas panggung. Hidangan yang disajikan juga disesuaikan dengan alur pertunjukan. “Kalau di Cakra Asih itu melihat teatrikal, kemudian kita berikan menu-menu makanan yang sesuai dengan alur cerita. Jadi menyesuaikan semua,” tutur Rani.
Sejumlah menu bahkan diberi nama yang memperkuat nuansa kerajaan dan kisah pewayangan, seperti Ayam Kemul, Rempah Keraton, serta Dendeng Bara Setyaki. Konsep serupa diterapkan pada interior ruangan. Dekorasi dibuat mengikuti cerita yang dibawakan pada malam pertunjukan. “Malam ini seperti peperangan melawan kesombongan. Kita dekorasinya seperti kerajaan,” jelasnya.Editor : Yoyok Agusta Kurniawan