Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pria Ditemukan Tewas di Depan Karaoke Buduran Sidoarjo, Motor dan Rokok Berserakan di Lokasi
Advertisement . Scroll to see content

Tritik Kembali Diburu Peneliti! BRIN Gandeng Belanda Telusuri Jejak Masa Pleistosen

Kamis, 10 September 2026 | 15:13 WIB
  • author John Arief
Tritik Kembali Diburu Peneliti! BRIN Gandeng Belanda Telusuri Jejak Masa Pleistosen
Peneliti dari BRIN akan menggandeng tim dari Belanda untuk meneliti kehidupan purba di kawasan hutan Tritik Nganjuk. Foto:ist

NGANJUK, iNewsSidoarjo.id - Kawasan Hutan Tritik, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kembali masuk dalam radar penelitian ilmiah terkait sejarah lingkungan purba dan evolusi manusia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah peneliti dari Belanda melakukan survei awal di kawasan tersebut pada 9–15 September 2026.

Riset ini merupakan kerja sama Pusat Riset Arkeometri BRIN dengan Naturalis Biodiversity Center, Wageningen University and Research, serta University of Twente, Belanda. Penelitian tidak hanya diarahkan untuk mencari fosil, tetapi juga memetakan situs-situs Pleistosen, jejak kehidupan manusia purba, kondisi lingkungan masa lalu, hingga tinggalan budaya yang terdapat di kawasan penelitian.

Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Dr. Sofwan Noerwidi, mengatakan penelitian di Tritik merupakan bagian dari upaya memperluas kajian yang sebelumnya banyak berfokus di kawasan Trinil dan sepanjang bentang alam Bengawan Solo. “Ini lanjutan penelitian sebelumnya. Kami ingin memperluas penelitian dari Trinil ke situs-situs fosil, situs Pleistosen, dan situs hominin di sepanjang Bengawan Solo dan Pegunungan Kendeng,” kata Sofwan saat ditemui usai bertemu Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Kamis (10/9/2026).

Menurut Sofwan, tim peneliti sebelumnya telah menelusuri sejumlah kawasan mulai Sragen, Ngawi, Ngandong dan Blora, Bojonegoro hingga Gresik. Tritik menjadi salah satu lokasi yang kembali dikaji untuk melihat keterkaitan antara kondisi geologi, lingkungan purba, serta kemungkinan jejak kehidupan manusia pada masa Pleistosen.

Pemilihan Tritik, kata dia, juga bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Kawasan tersebut telah menjadi objek penelitian arkeologi sejak sebelum terbentuknya BRIN. “Dulu ketika masih di Balai Arkeologi dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, kami sudah beberapa kali melakukan penelitian di Hutan Tritik,” ujar Sofwan.

Data penelitian sebelumnya menunjukkan kawasan Tritik memiliki potensi yang cukup beragam. Selain indikasi fosil, terdapat pula tinggalan budaya seperti kubur kalang dan punden berundak yang membuat kawasan tersebut menarik untuk dikaji secara lebih menyeluruh.

Karena itu, survei September ini masih ditempatkan sebagai tahap awal. Tim melakukan penilaian terhadap potensi kawasan sebelum menentukan bentuk penelitian yang lebih intensif pada tahap berikutnya.

Sofwan menjelaskan, penelitian tersebut juga membuka kemungkinan kajian Tritik dari perspektif geosite. Namun, menurut dia, pembicaraan mengenai pengembangan kawasan menjadi Geopark masih terlalu dini. “Harus dilihat dulu potensinya. Berapa jumlah geosite, keragamannya, tingkat kepentingannya, nilai konservasinya, serta manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Untuk menilai potensi tersebut, diperlukan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, termasuk Pusat Survei Geologi dan Museum Geologi. Kajian itu diperlukan untuk mengetahui objek geologi apa saja yang layak dilestarikan, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada publik.

Tritik dinilai memiliki sejumlah unsur yang menarik untuk dikaji, termasuk kawasan Gunung Pandan dan lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Namun, Sofwan menegaskan masih diperlukan penelitian lebih intensif untuk mengetahui seberapa luas serta pentingnya potensi geologi dan arkeologi yang tersimpan di kawasan tersebut.

Dalam pelaksanaan penelitian lapangan kali ini, tim BRIN dan peneliti dari Belanda akan didampingi Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disporabudpar) bersama Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk).

Rangkaian penelitian tersebut sekaligus menempatkan Tritik dalam konteks penelitian yang lebih luas mengenai bentang alam Pleistosen di Jawa. Kajian BRIN sebelumnya juga menunjukkan bahwa penelitian situs Pleistosen di Jawa membutuhkan pendekatan lintas bidang, mulai geologi, arkeologi, paleontologi hingga paleoantropologi.

Dengan demikian, survei di Tritik bukan sekadar pencarian temuan baru. Hasil pemetaan awal akan menjadi dasar untuk menentukan apakah kawasan tersebut memiliki nilai ilmiah dan konservasi yang cukup kuat untuk dikembangkan melalui penelitian lanjutan.

Editor: Hidayat Adi

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut