Berawal Memperbaiki, Kini Julius Setiawan Jadi Ahli Pembuat Barongsai Beromzet Jutaan Rupiah

Untuk bagian kepala, pengerjaan bisa rampung dalam 1–2 minggu, sementara badan barongsai membutuhkan waktu hingga dua bulan karena pola melengkung dan lapisan kain yang kompleks. Setiap barongsai dibuat dengan corak berbeda. Menurut Julius, tidak ada satupun karyanya yang benar-benar sama, karena semuanya dibuat manual.
Ia yang sejak kecil gemar menggambar kartun, kini berkembang menjadi keahlian melukis dan mewarnai kepala barongsai. Setiap tahun pesanan pembuatan barongsai selalu ramai, kecuali saat pandemi covid-19 melanda. Saat itu ia menggambarkan kondisinya seperti mati suri.
Selama hampir dua tahun, tidak ada pesanan maupun pertunjukan. “Benar-benar mati. Tidak ada order, tidak ada show,” kenang Julius. Namun setelah pandemi mereda, pesanan kembali menggeliat. Bahkan setiap tahun terus meningkat. Harga satu set barongsai buatan Julius berkisar Rp4 juta hingga Rp7 juta per ekor, tergantung ketebalan bulu dan detail aksesori.
Untuk barongsai dengan bulu tebal dari kepala hingga kaki, harganya mencapai Rp7 juta. Sementara pembuatan naga barongsai jauh lebih rumit dengan harga Rp7–9 juta per unit. Tahun ini, Julius menerima pesanan enam barongsai dan tiga naga, bahkan harus menolak dua pesanan tambahan karena keterbatasan waktu. Seluruh pesanan tersebut sudah masuk sejak tahun sebelumnya.
Pengiriman terjauh bahkan mencapai Nusa Tenggara Timur (NTT). Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan SDM penjahit serta sulitnya memperoleh aksesori tertentu yang belum tersedia di Indonesia dan harus dipesan secara daring dari luar negeri. Meski sempat mencoba melatih tim untuk membuat barongsai, Julius mengakui tidak semua orang memiliki ketelatenan dalam melukis dan mengecat. “Kalau tidak telaten, hasilnya kurang menjual,” katanya.
Selain pertunjukan Imlek, barongsai buatannya juga tampil di berbagai acara seperti ulang tahun, Agustusan, karnaval, hingga khitanan. Untuk kebutuhan pertunjukan, Julius mengelola sekitar 60 personel tim barongsai yang rutin tampil di hotel dan restoran saat musim Imlek. “Senang bisa jadi perajin barongsai. Selain dapat ilmu, saya merasa ikut mewariskan budaya,” pungkas Julius.
Editor : Aini Arifin