Arca Tanpa Kepala ini Diduga Berasal dari Sumber di Tengah Hutan dekat Kampung Romusha
NGANJUK, iNewsSidoarjo.id - Sebuah arca tanpa kepala yang kini berada di halaman rumah warga diduga berasal dari kawasan sumber air di tengah hutan, tepatnya di wilayah Dusun Sumber, Desa Kuncir, Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan penelusuran, sumber tersebut hingga kini masih aktif dan tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan saat musim kemarau.
Lokasinya berada di lereng dan berdekatan dengan aliran sungai kecil, namun kondisinya kini tidak terawat dan mulai berubah bentuk.
Pegiat sejarah dari komunitas Kotasejuk, Aries Trio Efendi, menyebut keberadaan arca yang ditemukan di sekitar sumber bukan hal yang kebetulan. “Kalau melihat ciri arca yang menunjukkan sosok pertapa, lalu dikaitkan dengan lokasi sumber di tengah hutan, ini mengarah pada dugaan kawasan spiritual, bukan sekadar tempat air biasa,” ujarnya pada Rabu (29/4/2026) saat mendatangi lokasi keberadaan arca.
Menurut Aries, dalam konteks sejarah Jawa kuno, sumber air yang berada di lokasi terpencil kerap memiliki fungsi ganda, baik sebagai sumber kehidupan maupun sebagai tempat aktivitas spiritual. “Apalagi sumber ini diketahui sudah dimanfaatkan sejak lama, bahkan pada masa pendudukan Jepang saat era romusha. Artinya, keberadaan sumber ini memang penting secara historis,” tambahnya.
Tak jauh dari lokasi sumber, sekitar satu kilometer, terdapat bekas kamp Jepang yang kini dikenal sebagai bangker Jepang di Desa Mojoduwur, desa yang dikenal juga sebagai kampung atau desa romusha.
Meski demikian, Aries menegaskan bahwa status arca tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya artefak lain yang belum ditemukan. “Informasi soal adanya arca pasangan juga menarik, tapi itu masih perlu verifikasi di lapangan,” katanya.
Saat ini, arca tersebut berada di halaman rumah warga desa Bendungrejo Kecamatan Berbek, setelah dipindahkan dari lokasi asalnya pada tahun 1981. Sementara itu, kondisi sumber yang diduga menjadi lokasi awal temuan semakin terabaikan dan belum mendapat perhatian khusus.
Editor : Yoyok Agusta Kurniawan