Gubuk Tempat Penemuan Jasad Marsinah Masih Berdiri, Jadi Sejarah yang Kerap Terlupakan
NGANJUK, iNewsSidoarjo.id - Di tengah peringatan Hari Buruh Internasional, perhatian publik kembali banyak tertuju ke makam aktivis buruh Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia. Namun, ada satu lokasi penting lain yang kerap luput dari sorotan, gubuk sederhana di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Kecamatan Wilangan.
Gubuk yang berada di tepi jalan itu dikenal warga sebagai “Gubuk Marsinah”, yakni lokasi ditemukannya jasad Marsinah pada 9 Mei 1993. Hingga kini, bangunan tersebut masih berdiri dan tetap digunakan warga serta kelompok tani sekitar sebagai tempat istirahat, diskusi, hingga cangkrukan saat jeda bekerja di sawah. “Disinilah dulu jasad Marsinah ditemukan tanggal 9 Mei 1993 oleh warga sini namanya Mbah Wiji, sekarang sudah almarhum,” kata Saiful Kohar, pegiat komunitas sejarah lokal, saat ditemui di lokasi pada Jumat (1/5/2026).
Saiful menjelaskan, tahun sebelumnya komunitasnya bersama warga melakukan perawatan sederhana di area gubuk, mulai dari membersihkan, mengecat ulang, mengganti bagian atap asbes, memasang papan nama, hingga menanam pohon tabebuya dan tanjung. “Tahun kemarin kami bersihkan, cat ulang, pasang papan nama, ganti atap dan tanam pohon. Alhamdulillah masih hidup karena dirawat warga. Harapannya tempat ini tidak dilupakan, karena ini juga bagian dari sejarah perjuangan buruh,” tambahnya.
Di sisi lain, Mujiyem, warga setempat yang juga pemilik warung di sebelah gubuk yang dikenal sebagai “Warung Marsinah”, mengatakan bahwa sempat ada wacana pembangunan patung Marsinah di wilayah tersebut, namun hingga kini belum terealisasi. “Dulu ada yang bilang mau dibangun patung Marsinah, tapi sampai sekarang belum ada. Tahun kemarin yang merawat justru komunitas, mereka juga pasang papan nama dan tanam bunga,” ujarnya.
Ia juga mengingat adanya kunjungan sejumlah pihak, termasuk pejabat daerah serta keluarga Marsinah, sekitar akhir tahun lalu. Setelah kunjungan itu, sempat ada tambahan papan penanda di area gubuk. Meski tidak lagi menjadi pusat perhatian besar, gubuk tersebut tetap memiliki fungsi sosial bagi warga sekitar.
Kelompok tani setempat masih memanfaatkannya sebagai tempat singgah singkat di sela aktivitas pertanian, sekaligus ruang diskusi informal. Bagi sebagian warga dan pegiat sejarah lokal, keberadaan gubuk ini menjadi pengingat bahwa jejak peristiwa kelam perjuangan buruh tidak hanya tersimpan di makam, tetapi juga di lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari kronologi sejarahnya.
Editor : Aini Arifin