get app
inews
Aa Text
Read Next : Diduga Cranium Manusia Purba Ditemukan di Hutan Tritik Rejoso Nganjuk

Sungai Purba dan Fosil Air Tawar Ditemukan di Kawasan Hutan Tritik Nganjuk

Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB
header img
Sungai Purba dan Fosil Air Tawar di hutan Tritik, Nganjuk. Foto:ist.

NGANJUK, iNewsSidoarjo.id – Aktivitas penanaman pohon yang dilakukan komunitas pecinta sejarah dan ekologi Kotasejuk di kawasan Hutan Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, mengungkap keberadaan aliran sungai purba yang memiliki nilai geologis dan edukatif.

Aliran sungai tersebut menunjukkan karakteristik tidak biasa, di antaranya keberadaan grojogan kecil dengan tebing batu yang menampilkan formasi stalagmit dan stalaktit terbuka, formasi yang umumnya ditemukan di dalam gua. Selain itu, pada dasar sungai ditemukan fosil kerang air tawar yang masih menempel pada lempeng batu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Amin Fuadi, menyebutkan bahwa temuan tersebut menjadi indikasi kuat adanya proses alam yang berlangsung sangat lama di kawasan tersebut. “Keberadaan stalagmit dan stalaktit yang masih aktif serta fosil air tawar di dasar sungai menunjukkan bahwa kawasan ini menyimpan jejak sejarah alam yang panjang,” ujar Amin Fuadi, Jumat (23/1/2025).

Secara geografis, lokasi sungai purba tersebut berada sekitar 200 meter dari Site Museum Tritik, yang telah diresmikan pada Desember 2025. Kawasan ini juga dikelilingi vegetasi hutan yang masih terjaga dan berada tidak jauh dari lokasi temuan fosil lain yang sebelumnya telah teridentifikasi.

Menurut Amin, secara lokal masyarakat setempat mengenal lokasi tersebut dengan sebutan Sumber Joblak. Meski bukan temuan baru bagi warga sekitar, potensi kawasan ini dinilai belum tergarap secara optimal. “Jika dikelola dengan baik, lokasi ini bisa menjadi pendukung wisata edukasi yang melengkapi Museum Tritik, karena pengunjung tidak hanya melihat koleksi di dalam museum, tetapi juga jejak alamnya secara langsung,” katanya.

Kedalaman sungai diperkirakan mencapai sekitar 1,5 meter. Pihak komunitas mengimbau pengunjung untuk tetap memperhatikan faktor keselamatan, mengingat kondisi dasar sungai yang berbatu dan lingkungan alam yang belum dilengkapi fasilitas penunjang.

Hingga saat ini, belum ada penetapan resmi terkait status pengelolaan kawasan tersebut. Namun temuan ini diharapkan dapat menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan kawasan bernilai sejarah dan lingkungan di Kabupaten Nganjuk.

Editor : Aini Arifin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut