Tatal, Artefak Peninggalan Masa Lampau yang Digunakan Membaca Astronomi dan Prakiraan Musim
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Kalimat Hujan bulan Juni, dalam sepekan terakhir banyak menjadi status whatsapp maupun story pada Instagram. Bukan tanpa alasan, judul puisi karya penyair legendaris Sapardi Joko Damono itu seolah menggambarkan kondisi cuaca yang terjadi pada bulan Juni 2026 ini.
Hujan yang terjadi di banyak wilayah di Jawa Timur dan pulau Jawa saat musim kemarau, menjadi anomali cuaca yang harus dihadapi masyarakat. Diantara yang terpengaruh hujan saat ini adalah para petani yang memasuki masa panen padi. Salah satu petani, Fakhrurrazi, mengatakan saat ini kebanyakan petani sudah panen dan mulai banyak yang menjemur gabahnya.
Hal itu tentu terganggu jika tiba-tiba mendung, apalagi hujan turun. “Saat ini banyak yang menjemur gabah. Ya harus waspada dan bisa memprediksi, soalnya kadang tiba-tiba mendung dan hujan” ungkap Fakhrur menjelaskan kondisi cuaca yang tak menentu.
Fenomena anomali cuaca ini merupakan bagian dari siklus musim di Indonesia yang telah menjadi kajian bahkan pengetahuan, sejak ratusan tahun lalu. Jika saat ini kita mengenal prakiraan cuaca dengan metode canggih yang dimiliki BMKG, ratusan tahun lalu orang nusantara menggunakan Tatal, sebagai patokan membaca kondisi astronomi maupun musim.
Fakta itu terkuak dalam seminar yang diadakan di museum negeri Mpu Tantular, Buduran, Sidoarjo. Seminar Hasil Kajian Koleksi Etnografika bertajuk “TATAL: Membaca Astronomi Lokal melalui Teknologi Tradisional” tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Lucy Dyah Hendrawati, S.Sos., M.Kes. dosen antropologi Universitas Airlangga, serta Laras Aridhini, S.Ant., M.A., periset antropologi dan pengetahuan kebudayaan.
Keduanya memaparkan hasil kajian mengenai Tatal, sebuah artefak tradisional yang menyimpan pengetahuan astronomi lokal masyarakat Nusantara. Tatal dalam konteks astronomi ini adalah bilah papan kayu yang bertuliskan kode-kode. Dilihat sepintas, Tatal mungkin tampak sebagai benda sederhana.
Namun di balik bentuk fisiknya tersimpan kecerdasan budaya yang berkembang dari pengalaman panjang masyarakat dalam memahami alam.
Editor : Aini Arifin