Tatal, Artefak Peninggalan Masa Lampau yang Digunakan Membaca Astronomi dan Prakiraan Musim

Menurut Dr. Lucy Dyah Hendrawati, masyarakat tradisional memiliki kemampuan observasi yang luar biasa terhadap fenomena alam yang terjadi di sekeliling mereka. “Pengetahuan astronomi lokal lahir dari hubungan yang sangat dekat antara manusia dan lingkungannya. Masyarakat membaca perubahan alam secara terus-menerus dan mengubahnya menjadi sistem pengetahuan yang berguna bagi kehidupan sehari-hari,” ungkap dosen Antroplogi Unair tersebut.
“Kemampuan membaca pergerakan benda-benda langit tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai perangkat tradisional yang berfungsi sebagai alat bantu penentuan waktu maupun penanda musim,” imbuhnya.
Tatal ini berisi kode terkait astronomi dan musim dalam periode tertentu. Laras Aridhini menjelaskan bahwa artefak seperti Tatal menunjukkan bagaimana teknologi tradisional berkembang dari kebutuhan praktis masyarakat zaman dulu. “Benda-benda etnografika tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga menjadi media penyimpan pengetahuan. Melalui kode-kode yang tertulis dalam papan Tatal, kita dapat memahami bagaimana masyarakat lokal membangun cara pandang terhadap ruang, waktu, dan alam semesta,” ungkap Laras.
“Salah satu contohnya, kode dalam papan Tatal itu memiliki makna terkait kondisi cuaca dan astronomi yang digunakan sebagai patokan oleh para petani, terkait kapan sebaiknya mulai menanam padi atau palawija,” imbuh peneliti antropologi itu.
Melalui patokan itu, para petani bisa meminimalisir gangguan pada tanamannya akibat berbagai gangguan alam. Menurut staf sekaligus filolog dari Museum Negeri Mpu Tantular, Agustin Tri Ariyani, kajian terhadap koleksi museum merupakan upaya untuk mengungkap kembali lapisan makna yang tersimpan di balik sebuah artefak. “Warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan atau benda kuno, tetapi juga dalam sistem pengetahuan. Hal itu harus bisa diwariskan ke generasi selanjutnya, agar pengetahuan berbasis budaya dan kearifan lokal, tidak hilang tergerus zaman,” ungkapnya.
“Koleksi museum menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat nusantara membangun pengetahuan tentang alam, ruang, waktu, dan kehidupan,” pungkas Ariyani.
Editor : Aini Arifin