Menyelamatkan Naskah Kuno, Memetik Kebesaran Peradaban Masa Lampau
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id - Kesadaran akan pentingnya warisan budaya tertulis berupa manuskrip dan naskah kuno, mulai digagas di tingkat lokal. Salah satunya oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo, dengan menggelar rapat koordinasi naskah kuno. Kegiatan ini menghadirkan sejarawan, budayawan, filolog, serta keluarga pemilik naskah kuno di wilayah Sidoarjo.
Kepala Bidang Pengelolaan, Layanan, dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo, Erna Kusumawati, menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk memetakan keberadaan naskah kuno yang masih tersimpan di tangan masyarakat. “Melalui rapat koordinasi ini, kami ingin menginventarisasi naskah-naskah kuno yang ada di Sidoarjo sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa naskah tersebut adalah sumber penting bagi penulisan sejarah daerah,” ujar Erna Kusumawati.
Dua narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan itu adalah Sudi Harjanto, sejarawan asal Sidoarjo yang juga berprofesi sebagai dokter, serta Agustin Tri Ariani, filolog dari museum Mpu Tantular Jawa Timur.
Menurut Sudi Harjanto, prasasti peninggalan leluhur dan naskah kuno memiliki peran strategis dalam memperkuat literatur sejarah daerah. “Selama ini sejarah daerah banyak bertumpu pada arsip kolonial. Padahal, naskah kuno dapat memberikan perspektif lokal tentang bagaimana masyarakat memahami dirinya sendiri. Ini penting untuk membangun kesadaran sejarah yang lebih seimbang,” ungkap Sudi Harjanto.
Dengan perhatian terhadap naskah kuno dan prasasti yang ada, sejarah bisa sedikit banyak diluruskan, sesuai dengan data yang ada. “Jika masyarakat memahami akar sejarah dan budayanya, maka pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan identitas manusia di daerah tersebut,” tambahnya.

Sementara Agustin Tri Ariani mengungkapkan, naskah kuno menyimpan berbagai hal luar biasa tentang peradaban leluhur bangsa. Banyak hal yang membuat generasi saat ini terkejut, sebab isi dari naskah kuno mengandung keilmuan yang bisa dianalisis dengan sains masa kini. Ia mencontohkan serat Sri Sedana, yang erat kaitan penulisannya dengan Mpu Kalangwan pada tahun 879 Saka.
Kemudian, penyalinan naskah itu dilakukan terus menerus hingga 1820 Saka, yang kini tersimpan di Museum Mpu Tantular. Naskah yang tersimpan di Museum Mpu Tantular tersebut bertuliskan aksara Jawa dalam media lontar. Serat Sri Sedana merupakan salah satu mitologi Jawa yang mengisahkan Dewi Sri dan adiknya Raden Sedana saat turun dari surga.
Mereka kemudian memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang menanam padi. “Meski awalnya terkesan mitos, namun saat dikaji mendalam, keilmuan menanam padi yang tertulis pada serat Sri Sedana, bisa dibuktikan secara ilmiah,” ujar Agustin.
Ia menambahkan, semakin belajar tentang naskah kuno, kita akan merasa keilmuan leluhur kita sudah luar biasa. “leluhur kita itu menakjubkan mas. Semakin kita mengkaji naskah kuno, kita akan semakin merasa tidak ada apa-apanya,” tambah Agustin.
Selanjutnya, koordinasi penyelamatan dan pemeliharaan naskah kuno yang digagas Dinas Perpustakaan Sidoarjo ini, diharapkan bisa menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan masyarakat, dalam upaya menyelamatkan serta mendokumentasikan naskah kuno, sebagai bagian dari literatur sejarah bangsa, khususnya di Sidoarjo.
Editor : Aini Arifin