Indonesia Punya Kekayaan Alam Melimpah Malah Disebut Negara Berkembang, Ini Alasannya

Iqbal Dwi Purnama
.
Jum'at, 16 September 2022 | 10:54 WIB
Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Invetasi/BKPM, Achmad Idrus, dalam acara pemberiam NIB kepada pelaku UMKM di kota Cilegon, Banten, Kamis (15/9/2022). (Foto: tangkapan layar)

JAKARTA, iNewsSidoarjo.id - Indonesia punya kekayaan alam yang melimpah, namun kenapa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) malah disebut negara lainnya sebagai negara berkembang.

Lalu apa penyebab Indonesia dicap negara berkembang. Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pun membeberkan penyebab. Salah satu indikator sebuah negara dikatakan sebagai negara maju adalah dilihat dari rasio penduduk dengan pengusaha.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Invetasi/BKPM, Ahmad Idrus. Idrus menuturkan, sebuah negara disebut sebagai negara maju ketika memiliki minimal 14 persen pengusaha dari total penduduknya.

Sementara saat ini, rasio pengusaha Indonesia masih rendah, yaitu sebesar 3 persen dari total penduduk. "Malaysia baru 5 persen, Singapura 7 persen, kita dibawah itu, padahal kita punya sumber daya alam yang banyak," ujar Ahmad Idrus, dalam acara pemberiam NIB kepada pelaku UMKM di kota Cilegon, Kamis (15/9/2022).

Dengan kekayaan alam yang berlimpah, lanjutnya, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk melahirkan banyak pengusaha yang menggarap sumber daya alam tersebut menjadi bisnis dan membuka lapangan kerja.

Namun masyarakat masih lebih memilih menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dibandingkan menjadi entrepreneur. Hal inilah yang menyebabkan rasio pengusaha dibandingkan total penduduk di Indonesia masih rendah.

Terkait dengan itu, BKPM giat melakukan pendampingan dan mempermudah pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk mendorong masyarakat yang ingin terjun menjadi pengusaha atau pebisnis.

"Jadi ini (pemberian NIB) kita jadikan gerakan nasional, mengajak warga negara untuk memilih profesi sebagai pengusaha, sebab kita baru 3 persen penduduk jadi pengusaha," kata Ahmad.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini