Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelayanan Sosial Bina Remaja Blitar, Farida Himawati, mengatakan, kemampuan para penyandang disabilitas dalam menghasilkan karya batik terus berkembang. Mereka tidak hanya mampu membuat batik ciprat, tetapi juga batik tulis hingga batik cap. "Teman-teman disabilitas ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka mampu menghasilkan berbagai jenis batik, mulai dari batik tulis, batik ciprat hingga batik cap. Hasil karyanya juga memiliki nilai ekonomi dan bisa dipasarkan," ujarnya.
Menurut Farida, pembelajaran membatik di Gadisku tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri dan melatih kemandirian para peserta. Melalui kegiatan rutin tersebut, mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas sesuai dengan kemampuan masing-masing. "Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan menunjukkan bahwa mereka juga mampu menghasilkan karya yang berkualitas. Harapannya, keterampilan ini bisa menjadi bekal bagi mereka untuk lebih mandiri," tambahnya.

Salah satu peserta saat belajar membatik di komunitas Gadisku. Foto:ist
Komunitas Gadisku berada di bawah naungan UPT Pelayanan Sosial Bina Remaja (PSBR) Blitar, Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Melalui program pembinaan dan keterampilan ini, para penyandang disabilitas didorong agar tidak hanya memiliki kemampuan berkarya, tetapi juga mampu membangun kemandirian secara ekonomi. Menariknya, hasil karya mereka kini telah dipasarkan melalui penjualan online maupun berbagai kegiatan pameran.
Produk yang dihasilkan pun semakin beragam. Tidak hanya berupa kain batik, tetapi juga diolah menjadi berbagai barang fungsional dan fesyen, seperti baju, tas, tas laptop, topi, syal hingga kipas. Harganya pun cukup bervariasi, mulai dari Rp180 ribu untuk produk batik ciprat hingga Rp350 ribu untuk batik tulis. Produk-produk tersebut dipajang dan dijual melalui galeri yang tersedia di lingkungan Gadisku. Setiap produk menjadi bukti bahwa kreativitas tidak mengenal batas kemampuan fisik seseorang.
Farida menambahkan, pemasaran hasil karya menjadi salah satu upaya untuk memberikan apresiasi terhadap kemampuan para penyandang disabilitas sekaligus membuka peluang agar keterampilan yang mereka miliki dapat menghasilkan pendapatan. "Kami berharap karya-karya mereka semakin dikenal masyarakat luas. Dengan begitu, hasil membatik ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mereka, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi dan menumbuhkan semangat untuk terus berkarya," terang Farida.
Lebih dari sekadar menghasilkan barang bernilai jual, kegiatan membatik ini juga memberikan ruang bagi para penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, membangun rasa percaya diri, serta memperoleh pengakuan atas hasil kerja mereka. Dari tangan-tangan yang selama ini kerap dipandang memiliki keterbatasan, lahir karya batik yang sarat kreativitas dan memiliki nilai ekonomi.
Mereka membuktikan bahwa disabilitas bukan berarti tidak mampu, melainkan membutuhkan kesempatan dan ruang yang setara untuk berkembang. “Melalui Gadisku, selembar kain batik bukan hanya menjadi karya seni, tetapi juga menjadi simbol perjuangan untuk meraih kemandirian dan masa depan yang lebih baik,” pungkas Farida.
Editor: Yoyok Agusta Kurniawan