Ditengah Keterbatasan, Komunitas Gadisku Blitar Buktikan Disabilitas Bisa Berkarya dan Mandiri
BLITAR, iNewsSidoarjo.id – Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya. Hal inilah yang dibuktikan sekelompok penyandang disabilitas yang tergabung di komunitas Gadisku. Mereka belajar membatik senin hingga kamis di kantor UPT Pelayanan Sosial Bina Remaja (PSBR), di jalan A.Yani, Sananwetan, Kota Blitar. Dengan penuh ketekunan, mereka mampu menghasilkan karya batik bernilai seni sekaligus ekonomi, bahkan turut melestarikan warisan budaya bangsa.
Para penyandang disabilitas ini menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengolah kain menjadi karya batik yang indah dan bernilai jual. Mulai dari membuat pola, mencanting, hingga proses pewarnaan, seluruh tahapan mereka pelajari dengan penuh semangat. Di balik setiap motif batik yang dihasilkan, tersimpan cerita tentang perjuangan, kesabaran, dan keinginan kuat untuk hidup mandiri dan terus belajar.
Salah satunya ditunjukkan oleh Masana Dhiya Muna. Dengan tekun, dia mengikuti setiap proses pembelajaran membatik. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperoleh penghasilan dari hasil karyanya sendiri. "Senang bisa belajar membatik di sini. Saya ingin terus belajar dan menghasilkan karya. Uang dari hasil membatik nanti ingin saya kumpulkan untuk ditabung dan membeli kebutuhan sendiri," ungkap Masana Dhiya Muna. Sabtu, (31/10/2026).
Semangat Masana menjadi gambaran bahwa kesempatan dan pendampingan yang tepat mampu membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi diri. Di komunitas Gadisku, mereka mendapatkan kesempatan belajar membatik, peserta hanya membeli bahannya. Sedangkan, mereka yang sudah mahir membatik, akan mendapatkan royalti, dari hasil karya mereka yang sudah laku terjual.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelayanan Sosial Bina Remaja Blitar, Farida Himawati, mengatakan, kemampuan para penyandang disabilitas dalam menghasilkan karya batik terus berkembang. Mereka tidak hanya mampu membuat batik ciprat, tetapi juga batik tulis hingga batik cap. "Teman-teman disabilitas ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka mampu menghasilkan berbagai jenis batik, mulai dari batik tulis, batik ciprat hingga batik cap. Hasil karyanya juga memiliki nilai ekonomi dan bisa dipasarkan," ujarnya.
Menurut Farida, pembelajaran membatik di Gadisku tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri dan melatih kemandirian para peserta. Melalui kegiatan rutin tersebut, mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas sesuai dengan kemampuan masing-masing. "Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan menunjukkan bahwa mereka juga mampu menghasilkan karya yang berkualitas. Harapannya, keterampilan ini bisa menjadi bekal bagi mereka untuk lebih mandiri," tambahnya.

Editor: Yoyok Agusta Kurniawan