Rupiah Melemah, Bahan Baku Mahal, Pelaku UMKM di Kampung Logam Tak Mau Menyerah

“Namun ya itu, kita terpaksa menaikkan harga hasil produksi antara 5 sampai 10 persen. Dampaknya, konsumen kadang mau kadang tidak” imbuh Syamsul. Guna menyiasati naiknya harga bahan baku, para pengusaha harus pandai untuk mencari bahan baku, agar industrinya tetap berjalan.
Dalam UMKM industri logam desa Ngingas, dikenal tiga jenis bahan baku, yakni KW-1, KW-2, dan KW-3. Untuk KW-1, bisa disebut barang baru, sehingga setiap saat selalu tersedia. Namun untuk bahan baku jenis KW-2 dan KW-3, barangnya kadang sulit didapat karena tidak selalu tersedia di pasaran. “Kita memang harus pinter nyari bahan baku. Itu supaya usaha kita terus bertahan” jelas Syamsul.
Sekadar diketahui, di UMKM milik Syamsul, naiknya harga bahan baku serta berkurangnya pembelian, berdampak pada penurunan produksi hingga 25 persen. Dengan memilih bertahan, otomatis para karyawan tetap bekerja dan mendapatkan gaji. Para pemilik UMKM ini bahkan tidak merumahkan karyawan, meski produksi menurun.
Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu. Menurut Syamsul Anam yang juga penasehat paguyuban industri unit logam ngingas, para pemilik UMKM nekat terus berproduksi, karena lebih mementingkan nilai kebersamaan dan sosial, daripada hanya soal menghitung laba dan rugi.
Hal itu karena sebagian besar karyawan yang bekerja, merupakan tetangga maupun kerabat dari pemilik UMKM industri logam. “Alhamdulillah belum ada karyawan yang dirumahkan. Semoga saja tidak ada”, ujar Syamsul.
“Disini itu rasa sosial dan kebersamaannya kuat. Semua karyawan itu rata-rata tetangga atau kerabat, yang awalnya nganggur kemudian diajak bekerja. Kita ndak tega kalau mereka berhenti bekerja”, imbuhnya. Terlepas dari persoalan yang ada, Syamsul dan para pemilik UMKM industri logam desa Ngingas berharap pemerintah melalui lembaga terkait, bisa memberikan solusi bagi keberlanjutan usaha mereka.
Sebab kampung industri logam Ngingas ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan tetap bisa bertahan di tengah badai krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia.
Editor: Aini Arifin