Rupiah Melemah, Bahan Baku Mahal, Pelaku UMKM di Kampung Logam Tak Mau Menyerah
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Badai krisis ekonomi dunia mulai merambah sektor UMKM di Indonesia. Salah satunya di kampung industri logam desa Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Naiknya harga bahan baku, mau tidak mau menyebabkan para pelaku UMKM ikut menaikkan harga produksi di pasaran. Namun yang patut diacungi jempol.
Para pemilik UMKM tetap bertahan dan tidak merumahkan karyawannya, sebab mereka lebih menjunjung nilai kebersamaan sosial, daripada sekedar menghitung laba rugi. Krisis ekonomi dunia ditambah melemahnya rupiah itu. dirasakan hampir 200 UMKM industri logam di Desa Ngingas.
Ratusan UMKM itu bergerak di berbagai klaster produk logam berbeda, antara lain sparepart otomotif, alat-alat dapur, alat bangunan, alat elektronik, hingga mebel. Dari 200 pemilik UMKM yang ada, masing-masing memiliki karyawan dari hanya seorang, hingga 100 orang per UMKM. Salah satu UMKM yang memiliki banyak karyawan adalah UD Aji Batara Perkasa Mandiri.
Disini, berbagai produksi olahan logam dikerjakan, mulai dari spare part motor, laser cutting logam, pengecatan logam, hingga pembubutan logam. Pemilik UMKM, H. Syamsul Anam mengatakan, usahanya masih terus dipaksa bertahan, meski kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Ia terus berupaya mencari celah, agar produksinya tetap berjalan, meski harga bahan baku terus naik sejak sebulan terakhir.
Salah satu bahan baku industrinya seperti plastik dan besi, harganya terus merangkak naik. Saat ini, besi naik Rp2.000, dari Rp12.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Sementara pipa besi, dari harga RP13.500 kini naik menjadi Rp18.000. “Harga bahan baku terus naik, mau tidak mau kita harus tetap beli agar bisa terus produksi”, ungkap Syamsul.
Editor: Aini Arifin