Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Operasi Pekat Diduga Bocor, Satpol PP Sidoarjo Tetap Amankan Miras dan LC, Mimik: Sikat Habis!
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Melemah, Bahan Baku Mahal, Pelaku UMKM di Kampung Logam Tak Mau Menyerah

Selasa, 26 Mei 2026 | 14:37 WIB
  • author Hidayat Adi
Rupiah Melemah, Bahan Baku Mahal, Pelaku UMKM di Kampung Logam Tak Mau Menyerah
Penasehat paguyuban industri unit logam desa Ngingas, H. Syamsul Anam, tengah menjelaskan kondisi UMKM industri logam di tengah krisis ekonomi dan melemahnya nilai rupiah. Foto : Hidayat Adi.

SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Badai krisis ekonomi dunia mulai merambah sektor UMKM di Indonesia. Salah satunya di kampung industri logam desa Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Naiknya harga bahan baku, mau tidak mau menyebabkan para pelaku UMKM ikut menaikkan harga produksi di pasaran. Namun yang patut diacungi jempol.

Para pemilik UMKM tetap bertahan dan tidak merumahkan karyawannya, sebab mereka lebih menjunjung nilai kebersamaan sosial, daripada sekedar menghitung laba rugi. Krisis ekonomi dunia ditambah melemahnya rupiah itu. dirasakan hampir 200 UMKM industri logam di Desa Ngingas.

Ratusan UMKM itu bergerak di berbagai klaster produk logam berbeda, antara lain sparepart otomotif, alat-alat dapur, alat bangunan, alat elektronik, hingga mebel. Dari 200 pemilik UMKM yang ada, masing-masing memiliki karyawan dari hanya seorang, hingga 100 orang per UMKM. Salah satu UMKM yang memiliki banyak karyawan adalah UD Aji Batara Perkasa Mandiri.

Disini, berbagai produksi olahan logam dikerjakan, mulai dari spare part motor, laser cutting logam, pengecatan logam, hingga pembubutan logam. Pemilik UMKM, H. Syamsul Anam mengatakan, usahanya masih terus dipaksa bertahan, meski kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Ia terus berupaya mencari celah, agar produksinya tetap berjalan, meski harga bahan baku terus naik sejak sebulan terakhir.

Salah satu bahan baku industrinya seperti plastik dan besi, harganya terus merangkak naik. Saat ini, besi naik Rp2.000, dari Rp12.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Sementara pipa besi, dari harga RP13.500 kini naik menjadi Rp18.000. “Harga bahan baku terus naik, mau tidak mau kita harus tetap beli agar bisa terus produksi”, ungkap Syamsul.


Ratusan pekerja di UMKM industri logam desa Ngingas memilih bertahan di tengah krisis ekonomi yang berdampak pada naiknya bahan baku dan melemahnya nilai rupiah. Foto : Hidayat Adi.

“Namun ya itu, kita terpaksa menaikkan harga hasil produksi antara 5 sampai 10 persen. Dampaknya, konsumen kadang mau kadang tidak” imbuh Syamsul. Guna menyiasati naiknya harga bahan baku, para pengusaha harus pandai untuk mencari bahan baku, agar industrinya tetap berjalan.

Dalam UMKM industri logam desa Ngingas, dikenal tiga jenis bahan baku, yakni KW-1, KW-2, dan KW-3. Untuk KW-1, bisa disebut barang baru, sehingga setiap saat selalu tersedia. Namun untuk bahan baku jenis KW-2 dan KW-3, barangnya kadang sulit didapat karena tidak selalu tersedia di pasaran. “Kita memang harus pinter nyari bahan baku. Itu supaya usaha kita terus bertahan” jelas Syamsul.

Sekadar diketahui, di UMKM milik Syamsul, naiknya harga bahan baku serta berkurangnya pembelian, berdampak pada penurunan produksi hingga 25 persen. Dengan memilih bertahan, otomatis para karyawan tetap bekerja dan mendapatkan gaji. Para pemilik UMKM ini bahkan tidak merumahkan karyawan, meski produksi menurun.

Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu. Menurut Syamsul Anam yang juga penasehat paguyuban industri unit logam ngingas, para pemilik UMKM nekat terus berproduksi, karena lebih mementingkan nilai kebersamaan dan sosial, daripada hanya soal menghitung laba dan rugi.

Hal itu karena sebagian besar karyawan yang bekerja, merupakan tetangga maupun kerabat dari pemilik UMKM industri logam. “Alhamdulillah belum ada karyawan yang dirumahkan. Semoga saja tidak ada”, ujar Syamsul.

“Disini itu rasa sosial dan kebersamaannya kuat. Semua karyawan itu rata-rata tetangga atau kerabat, yang awalnya nganggur kemudian diajak bekerja. Kita ndak tega kalau mereka berhenti bekerja”, imbuhnya. Terlepas dari persoalan yang ada, Syamsul dan para pemilik UMKM industri logam desa Ngingas berharap pemerintah melalui lembaga terkait, bisa memberikan solusi bagi keberlanjutan usaha mereka.

Sebab kampung industri logam Ngingas ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan tetap bisa bertahan di tengah badai krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia.

Editor: Aini Arifin

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut