Petani Perempuan Blitar Bangkitkan Kopi Robusta Sumberurip, Harga Sempat Tembus Rp70.000 per Kg
Menurutnya, perempuan justru memiliki ketelitian lebih dalam mengurus tanaman. Mulai dari jadwal pemupukan hingga penyemprotan, semua diperhatikan dengan detail. “Perempuan itu lebih jeli di pertanian. Tahu waktunya pemupukan, waktunya semprot dan lainnya itu lebih teliti. Kalau laki-laki biasanya garis besarnya saja,” tutur Suti sambil tersenyum.
Bagi dirinya, bertani bukan hanya pekerjaan, melainkan bentuk cinta terhadap kehidupan. “Kita bergerak dari hati. Kita cinta sama tanaman itu sama seperti kita mencintai diri sendiri. Itu selalu saya lakukan, sama kopi, sama padi juga begitu,” katanya.

Semangat serupa juga ditunjukkan petani milenial, Iswahyudi (48). Pria yang pernah merantau dan bekerja di Malaysia selama delapan tahun itu mulai serius belajar bertani kopi sejak 2019. “Belajar sambil praktik. Bertani satu jenis tanaman itu lebih mudah dipelajari dibanding lebih dari tiga jenis tanaman,” ujar Iswahyudi.
Peralihan petani ke kopi robusta di Desa Sumberurip bukan tanpa alasan. Dalam empat tahun terakhir, banyak petani mulai meninggalkan tanaman cengkeh akibat serangan virus yang menyebabkan hasil panen menurun drastis.
Kepala Dusun Sumbermanggis, Sunarto (52), mengatakan desa sangat mendukung perkembangan kelompok tani kopi, termasuk kelompok petani wanita yang kini semakin aktif. “Pihak desa sangat mendukung dan bangga karena ada perwakilan kelompok petani wanita yang terus berkembang,” katanya.
Menurut Sunarto, saat ini terdapat sembilan kelompok tani di Desa Sumberurip dengan jumlah petani kopi mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 orang. Bahkan, kopi robusta dari desa tersebut kini menjadi salah satu yang terbaik di Kabupaten Blitar. “Kalau di tingkat kabupaten, Sumberurip ini nomor dua. Kalau di Kecamatan Doko, kopi robusta Sumberurip nomor satu,” pungkasnya.
Editor : Yoyok Agusta Kurniawan