get app
inews
Aa Text
Read Next : Tembus 23.347! Kasus Sifilis di Indonesia Meningkat, Kemenkes Imbau Pemeriksaan Rutin

Hari Gizi Nasional Ke-66, Puluhan Ibu Ikuti Edukasi Hadapi Picky Eater pada Anak

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:05 WIB
header img
Ibu-ibu mengikuti lomba menghias menu sehat untuk bekal anak, dalam peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 di RSU Assakinah Medika Sidoarjo. Foto:ist.

SIDOARJO, iNews.sidoarjo.id – Kondisi susah makan atau suka pilih-pilih makanan, banyak terjadi pada anak di rentang usia 2-5 tahun. Dalam istilahnya, hal tersebut disebut picky eater, alias perilaku suka memilih makanan dan menolak menu makanan baru.

Jika berlarut-larut, kondisi tersebut bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Hal itu terungkap dalam sebuah seminar kesehatan anak, yang mengangkat tema menghadapi gerakan tutup mulut pada anak. Tema ini diangkat berdasarkan fakta tentang banyaknya anak yang susah makan maupun suka pilih-pilih makanan. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Minggu, 25/1/2026 itu, merupakan rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang digelar di RSU Assakinah Medika Sidoarjo.

Dokter spesialis anak, sekaligus konselor laktasi RSU Assakinah Medika, dr. Nur Alfiani, Sp.A, mengatakan, kasus anak yang susah makan ini sangat banyak, sehingga seminar ini menarik, hingga diikuti puluhan ibu-ibu. “Picky Eater adalah kondisi anak yang pilih-pilih makanan. Kadang dia hanya mau satu jenis protein saja, tapi itu normal. Yang menjadi masalah adalah ketika anak sama sekali tidak mau makan protein maupun karbohidrat,” tuturnya.

Dengan adanya seminar ini, para ibu diharapkan bisa memiliki pengetahuan dan solusi, menghadapi anaknya yang susah makan atau suka pilih-pilih makanan. “Saat tidak menyukai makanan, anak biasanya menutup mulutnya. Nah, dengan seminar ini diharapkan para ibu mendapatkan tips menghadapi perilaku anak tersebut” imbuh dr. Nur.

Bila menghadapi situasi tersebut, dr. Nur menyebutkan, orangtua harus segera berkonsultasi dengan dokter anak, maupun psikolog klinis anak. “Selanjutnya anak harus mengikuti terapi secara rutin dan feeding rules dengan prinsip pola makan anak yang sehat dan teratur untuk membantu tumbuh kembangnya” jelas dr. Nur Alfiani.

Arum Cahya, seorang ibu muda asal kecamatan Sukodono mengisahkan pengalamannya memiliki anak yang mengalami picky eater, alias pilih-pilih makanan. “Saya bingung, anak saya yang nomor dua, sejak menjelang usia 5 tahun lalu, tidak mau makan nasi. Konsumsinya hanya tempe, tahu, dan daging ayam. Namun, menu itu tidak mau dimakan di hari berikutnya. Dia baru mau makan menu serupa, seminggu kemudian,” ucapnya.

Menghadapi perilaku anaknya tersebut Arum direkomendasikan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikiater. “Saya dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter spesialis anak, atau ke psikologis anak, serta ahli gizi, agar pola makan anak saya yang sekarang berusia 6 tahun, kembali normal,” ungkap Arum.

Usai mendapatkan pengetahuan dalam seminar tentang picky eater. Para peserta juga mengikuti lomba menghias menu bekal sehat untuk anak. “Penilaian yang utama adalah keseimbangan gizi, cita rasa, kreativitas dan kerapihan,” jelas dr. Helmy Uung Muharromi, Kepala Sub. Bagian Pelayanan Medis, RSU Assakinah Medika Sidoarjo.

Selain pengetahuan dan sikap bijaksana saat menghadapi anak yang picky eater, orang tua juga diharapkan bisa meningkatkan nafsu makan anak, untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. “Guna menambah nafsu makan anak, ada tiga poin utama, yang meliputi feeding rules yang berakar dari pola makanan sehat yang teratur, lingkungan yang memadai, serta dukungan orangtua,” pungkas dr. Helmy.

Editor : Aini Arifin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut