Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid berbicara di depan ratusan umat berbagai agama menjelang buka puasa bersama. Foto: Hidayat Adi.
Ia merasa diterima tanpa perbedaan. “Saya merasa dihargai sebagai bagian dari bangsa ini. Tidak ada sekat. Semua duduk sama rata,” katanya.
Hal serupa disampaikan Maria (42), jemaat GKJW. Baginya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa iman tidak menjadi penghalang untuk membangun kemanusiaan. “Kami belajar bahwa perbedaan tidak memisahkan, justru memperkuat kepedulian,” ujarnya.
Koordinator Gusdurian Sidoarjo, Febrian Aryani, menjelaskan bahwa kegiatan buka puasa lintas iman bersama Shinta Nuriyah rutin digelar di berbagai daerah di Jawa Timur. Tahun ini, Sidoarjo dipercaya menjadi tuan rumah. “Tidak semua daerah mendapat kesempatan. Antusiasme masyarakat luar biasa, bahkan melebihi kapasitas gedung yang sekitar 800 orang,” kata Febrian.
Ia menambahkan, meskipun hujan deras mengguyur, peserta tetap berdatangan. Tema kegiatan memang ditetapkan secara nasional, dengan dua agenda utama, yakni sahur dan buka bersama.
Di Sidoarjo, agenda yang digelar adalah buka puasa bersama. Kegiatan semacam ini, lanjutnya, setiap tahun berpindah lokasi, mulai dari gereja hingga kelenteng. Tujuannya satu: merawat toleransi beragama dan memperkuat solidaritas sosial di tengah keberagaman.
Di tengah polarisasi yang kerap terjadi, momen kebersamaan lintas iman di GKJW Sidoarjo menjadi bukti, bahwa kehidupan harmonis di masyarakat masih terjaga. Kegaduhan intoleransi yang biasa terjadi di dunia maya, diharapkan bisa diminimalisir dengan kegiatan-kegiatan harmoni di dunia nyata seperti ini.
Editor : Aini Arifin
