SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Peristiwa tertimpanya dua mobil di jalan Majapahit Sidoarjo oleh pohon yang tumbang pada Sabtu sore 3/1/2026, merupakan dampak dari hujan deras dan angin kencang yang melanda sebagian besar wilayah Jawa Timur.
Meski sebagian warga mengatakan jika akar pohon besar tersebut diduga lapuk dimakan usia, namun faktor kuatnya terjangan angin diduga menyebabkan pohon besar itu tumbang. “Kemungkinan pohon tersebut tumbang karena akarnya lapuk dimakan usia, ditambah terjangan angin yang kuat,” ujar Syaiful, seorang warga di lokasi kejadian.
Sementara itu, dikonfirmasi terkait peristiwa alam di Sidoarjo itu, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menyampaikan bahwa kondisi tersebut berhubungan dengan cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi di Jawa Timur.
Kepala Stasiun Metereologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan mengatakan hujan dengan intensitas sedang hingga deras, disertai angin kencang, banjir, longsor, serta hujan es, berpotensi terjadi di seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur dalam periode tanggal 1 hingga 10 Januari 2026.
Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia dan diprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Low Frequency serta MJO (Madden Julian Oscillation), yang akan melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil, turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang. “Sebagian besar wilayah di Jatim memasuki puncak musim hujan pada kisaran bulan Januari dan Februari, meski ada beberapa wilayah yang sudah masuk ke puncak musim hujan pada rentang Oktober hingga Desember 2025,” terang Taufiq.
“Puncak musim hujan yang ditandai cuaca ekstrem tersebut, bisa berdampak signifikan pada aktivitas masyarakat,” imbuhnya. Mengantisipasi semua hal yang tidak diinginkan, BMKG Juanda mengimbau Masyarakat dan instansi terkait agar selalu waspada terhadap cuaca ekstrem yang bisa menimbulkan hujan deras dan puting beliung.
Terlebih untuk masyarakat yang berada dalam topografi dataran tinggi yang curam, diimbau lebih waspada terhadap dampak bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang.
Editor : Aini Arifin
Artikel Terkait
