Telusuri Hutan Tritik, Pegiat Kotasejuk Temukan Fosil Kayu Terbesar
NGANJUK , iNewsSidoarjo.id - Penelusuran kawasan Hutan Tritik, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, pada Minggu (30/8/2026), membuahkan temuan menarik. Pegiat Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk) menemukan sejumlah fosil kayu berukuran besar yang disebut menjadi temuan terbesar selama penelusuran mereka di kawasan tersebut.
Penelusuran awalnya menyasar kawasan sekitar lokasi temuan fosil Stegodon yang sebelumnya dievakuasi tim geologi dari Bandung. Namun, kondisi vegetasi yang masih cukup lebat membuat tim kesulitan menembus kawasan tersebut. “Kita awalnya memang ingin menelusuri lagi sekitar lokasi temuan Stegodon. Tapi kondisi semaknya masih cukup lebat meskipun sekarang musim kemarau, ditambah tumpukan daun jati yang menutup permukaan tanah,” kata pegiat Kotasejuk, Aries Trio Effendi.
Tim kemudian berpindah ke area yang vegetasinya lebih terbuka untuk mengamati permukaan tanah. Setelah menyusuri sejumlah titik, mereka menemukan kawasan yang justru didominasi fosil kayu. “Setelah kita pindah dan menelusuri beberapa titik, akhirnya menemukan satu kawasan yang banyak fosil kayunya. Dan ukurannya cukup besar. Sejauh penelusuran kami sebelumnya, ini yang terbesar,” ujarnya.
Menurut Aries, posisi dan bentuk sejumlah bagian fosil tersebut memunculkan dugaan bahwa material itu sebelumnya merupakan bagian dari satu pohon berukuran besar yang kemudian terpecah akibat proses alam.
Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan antarbagian fosil. Menariknya, meski berada di permukaan tanah, struktur fosil kayu masih terlihat cukup jelas. Beberapa bagian bahkan masih memperlihatkan karakter dan tekstur kayu.
Secara umum, fosilisasi kayu dapat terjadi ketika material tumbuhan terkubur dan terlindungi dari pembusukan. Dalam proses yang berlangsung sangat lama, mineral yang terbawa air dapat masuk ke pori-pori kayu dan mengisi atau menggantikan material organiknya. Struktur asli kayu kemudian dapat tetap terawetkan meski material penyusunnya telah berubah menjadi mineral. “Kalau dilihat, bentuk kayunya masih kelihatan. Tapi materialnya sudah menjadi batu. Ini yang menarik dari temuan tersebut,” kata Aries.
Di lokasi yang sama, tim justru belum menemukan banyak fosil tulang maupun serpihan fauna. Padahal, fragmen tulang sebelumnya cukup sering menjadi petunjuk dalam penelusuran kawasan Tritik.
Aries menilai kondisi tersebut belum bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan tidak adanya fauna pada masa lalu. Pelestarian tulang sangat dipengaruhi proses penguburan, kondisi lingkungan, pelapukan, serta proses geologi setelah organisme mati. “Di titik ini kita memang belum banyak menemukan serpihan tulang. Tapi bukan berarti dulu tidak ada fauna. Bisa saja kondisi pengendapannya berbeda atau fosilnya belum tersingkap,” jelasnya.
Selain fosil kayu, penelusuran juga menemukan sejumlah lapisan batuan dan material sedimen. Beberapa batu sempat terlihat menyerupai fosil, tetapi setelah diamati lebih lanjut lebih mengarah pada batuan hasil proses pemadatan material sedimen.
Fosil kayu yang ditemukan belum langsung dievakuasi dari lokasi. Tim memilih mendokumentasikan dan melaporkan temuan tersebut kepada Museum Tritik untuk ditindaklanjuti. “Untuk sementara kita laporkan dulu ke Museum Tritik. Ukurannya cukup besar dan berat, jadi proses evakuasinya membutuhkan persiapan, termasuk transportasi supaya fosil tidak rusak,” ujar Aries.
Penelusuran tersebut sekaligus menjadi observasi awal Kotasejuk pada musim kemarau tahun ini. Pemilihan waktu dilakukan karena kondisi vegetasi saat musim hujan biasanya lebih lebat sehingga sejumlah kawasan sulit dijangkau.
Aries mengatakan penelusuran bukan semata-mata untuk mencari fosil, tetapi juga membaca kondisi tanah, batuan dan lapisan geologi yang dapat memberikan petunjuk mengenai lingkungan masa lalu di kawasan Tritik. “Tujuan kita memang menelusuri dan mendokumentasikan apa yang masih ada di kawasan ini. Tidak selalu harus menemukan tulang atau fosil besar. Dari batuan, tanah dan fosil kayu saja sudah ada informasi yang bisa kita pelajari,” pungkasnya.
Editor : Hidayat Adi