Drone Kamikaze FPV Buatan STTAL Disiapkan Hadapi Perang Gerilya Laut dan Serangan Swarm Drone
SURABAYA, iNewsSidoarjo.id – Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) terus mengembangkan teknologi pertahanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui riset drone kamikaze FPV.
Inovasi yang dikembangkan dosen dan mahasiswa STTAL ini diproyeksikan menjadi bagian dari strategi peperangan modern TNI Angkatan Laut untuk menghadapi ancaman perang gerilya di laut, termasuk serangan drone secara berkelompok (swarm drone). Drone kamikaze FPV tersebut dirancang sebagai bagian dari sistem pertahanan berlapis kapal perang.
Pada lapis pertama, ancaman dihadapi dengan jamming elektronik untuk mengganggu sistem musuh. Jika terdeteksi serangan swarm drone, kapal kemudian menerbangkan drone kamikaze FPV dalam jumlah lebih banyak untuk mencegat dan menghancurkan drone penyerang.
Apabila ancaman masih berlanjut, pertahanan dilanjutkan menggunakan persenjataan kapal. Sebagai lapis terakhir, personel ditempatkan di sepanjang geladak kapal sesuai pembagian sektor tembak guna menghadapi ancaman yang berhasil menembus sistem pertahanan.
Selain untuk kebutuhan operasi tempur, drone kamikaze FPV juga dimanfaatkan sebagai media latihan. Drone diterbangkan dalam pola swarm attack untuk mensimulasikan serangan terhadap Kapal Republik Indonesia (KRI) maupun pangkalan TNI AL, sehingga prajurit dapat merasakan skenario peperangan modern tanpa menggunakan amunisi.
Teknologi ini juga dinilai mampu mendukung operasi amfibi karena memiliki kemampuan menyerang target bergerak yang sulit dijangkau meriam maupun persenjataan kapal konvensional. Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, mengatakan pengembangan teknologi pertahanan menjadi fokus utama STTAL sebagai perguruan tinggi milik TNI Angkatan Laut. "STTAL memang diutamakan untuk mengembangkan teknologi kemaritiman yang mendukung kebutuhan pertahanan dan peperangan," jelas Muhammad Ali.
Editor : Hidayat Adi