Menyelamatkan Naskah Kuno, Memetik Kebesaran Peradaban Masa Lampau

Sementara Agustin Tri Ariani mengungkapkan, naskah kuno menyimpan berbagai hal luar biasa tentang peradaban leluhur bangsa. Banyak hal yang membuat generasi saat ini terkejut, sebab isi dari naskah kuno mengandung keilmuan yang bisa dianalisis dengan sains masa kini. Ia mencontohkan serat Sri Sedana, yang erat kaitan penulisannya dengan Mpu Kalangwan pada tahun 879 Saka.
Kemudian, penyalinan naskah itu dilakukan terus menerus hingga 1820 Saka, yang kini tersimpan di Museum Mpu Tantular. Naskah yang tersimpan di Museum Mpu Tantular tersebut bertuliskan aksara Jawa dalam media lontar. Serat Sri Sedana merupakan salah satu mitologi Jawa yang mengisahkan Dewi Sri dan adiknya Raden Sedana saat turun dari surga.
Mereka kemudian memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang menanam padi. “Meski awalnya terkesan mitos, namun saat dikaji mendalam, keilmuan menanam padi yang tertulis pada serat Sri Sedana, bisa dibuktikan secara ilmiah,” ujar Agustin.
Ia menambahkan, semakin belajar tentang naskah kuno, kita akan merasa keilmuan leluhur kita sudah luar biasa. “leluhur kita itu menakjubkan mas. Semakin kita mengkaji naskah kuno, kita akan semakin merasa tidak ada apa-apanya,” tambah Agustin.
Selanjutnya, koordinasi penyelamatan dan pemeliharaan naskah kuno yang digagas Dinas Perpustakaan Sidoarjo ini, diharapkan bisa menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan masyarakat, dalam upaya menyelamatkan serta mendokumentasikan naskah kuno, sebagai bagian dari literatur sejarah bangsa, khususnya di Sidoarjo.
Editor : Aini Arifin