Dua Napiter Lapas Porong Ucapkan Ikrar Setia NKRI
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id - Ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali menggema dari balik tembok Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo. Dua narapidana tindak pidana terorisme (napiter) berinisial ZY dan FA resmi menyatakan komitmennya meninggalkan paham radikal dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Rabu (11/2).
Momentum tersebut menjadi penanda keberhasilan program deradikalisasi yang dijalankan secara intensif di Lapas Kelas I Surabaya. Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Surabaya Sohibur Rachman menjelaskan, kedua napiter tersebut sebelumnya terafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Keduanya dipindahkan ke Lapas Kelas I Surabaya pada 18 Desember lalu dari Rutan Depok untuk menjalani proses pembinaan lanjutan. “Sejak dipindahkan ke sini, yang bersangkutan kami berikan pembinaan secara intensif. Tahapannya dimulai dari pengenalan lingkungan, penataan kondisi emosional dan intelektual, hingga proses netralisasi,” ujar Sohibur, Kamis (12/2).
Ia menegaskan, pendekatan yang digunakan mengedepankan sisi humanis dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. ZY dan FA diberikan ruang untuk merenung, belajar, serta berinteraksi sosial dengan warga binaan lain yang memiliki latar belakang beragam. “Kami membuka ruang dialog dan pembelajaran. Pendekatan pembinaan yang humanis dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan inilah yang menjadi titik balik perubahan cara pandang mereka,” tegasnya.
Menurut Sohibur, ikrar setia kepada NKRI bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kesiapan kedua napiter untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi Pancasila dan keberagaman. Sementara itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Ditjenpas Yulius Sahruzah menyampaikan apresiasi atas komitmen yang ditunjukkan ZY dan FA.
Ia menekankan bahwa Pancasila memiliki posisi fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Dengan pernyataan ikrar setia kepada NKRI ini, berarti saudara adalah warga binaan kami yang telah siap untuk mencintai NKRI dan bersama-sama menjaga Pancasila dengan menghargai perbedaan yang ada,” ucap Yulius.
Ia menambahkan, Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga ideologi nasional dan pandangan hidup bangsa Indonesia. “Pancasila bukan semata-mata hanya berkedudukan sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai ideologi nasional, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan pemersatu bangsa,” tegasnya.
Yulius berharap, setelah melalui proses pembinaan, keduanya dapat menjadi pribadi yang sadar akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, beriman dan bertakwa, mampu menempatkan diri secara proporsional sesuai fungsi dan tanggung jawab, serta taat terhadap ketentuan perundang-undangan. “Harapannya, mereka kelak menjadi warga negara yang baik dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” pungkasnya.
Prosesi ikrar digelar di Aula MD Arifin dan dihadiri langsung oleh Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Ditjenpas, perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 Antiteror, BINDA Jawa Timur, Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Jatim, Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, serta unsur TNI dan Polri.
Editor : Aini Arifin