Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia dan diprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Low Frequency serta MJO (Madden Julian Oscillation), yang akan melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil, turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang. “Sebagian besar wilayah di Jatim memasuki puncak musim hujan pada kisaran bulan Januari dan Februari, meski ada beberapa wilayah yang sudah masuk ke puncak musim hujan pada rentang Oktober hingga Desember 2025,” terang Taufiq.
“Puncak musim hujan yang ditandai cuaca ekstrem tersebut, bisa berdampak signifikan pada aktivitas masyarakat,” imbuhnya. Mengantisipasi semua hal yang tidak diinginkan, BMKG Juanda mengimbau Masyarakat dan instansi terkait agar selalu waspada terhadap cuaca ekstrem yang bisa menimbulkan hujan deras dan puting beliung.
Terlebih untuk masyarakat yang berada dalam topografi dataran tinggi yang curam, diimbau lebih waspada terhadap dampak bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang.
Editor : Aini Arifin
Artikel Terkait
