Mengenal Ritual Sakral Menusuk Sima Penanda Lahirnya Nganjuk yang Terus Hidup di Era Modern
NGANJUK, iNewsSidoarjo.id-Di tengah suasana khidmat kawasan Candi Lor, jejak sejarah kembali dihidupkan melalui ritual Manusuk Sima, sebuah tradisi sakral yang menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Hari Jadi Nganjuk. Tahun ini, peringatan ke-1089 tersebut tak sekadar seremoni, tetapi juga momentum refleksi atas akar sejarah dan jati diri daerah.
Secara historis, Manusuk Sima merupakan ritual penetapan tanah perdikan atau wilayah bebas pajak pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Tradisi ini merujuk pada kisah yang tertulis dalam Prasasti Anjuk Ladang, yang mencatat kemenangan pasukan Mpu Sindok berkat dukungan dari Mpu Anjuk Ladang. Sebagai bentuk penghargaan, wilayah tersebut kemudian ditetapkan sebagai tanah sima, sebuah tonggak penting yang diyakini menjadi awal lahirnya kawasan yang kini dikenal sebagai Nganjuk.
Dalam pelaksanaannya, Manusuk Sima bukan sekadar pertunjukan budaya. Prosesi ini sarat makna filosofis yang diwariskan lintas generasi. Tahapan ritual dimulai dari pemasangan pasak sebagai simbol peneguhan wilayah, dilanjutkan dengan banting telur (banting hantelu), penyembelihan ayam (nigas guling hayam), hingga penyebaran abu (awur-awur awu).
Setiap tahap mencerminkan komitmen, pengorbanan, serta kesepakatan bersama yang harus dijaga oleh masyarakat.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan bahwa Manusuk Sima memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar tradisi tahunan. Menurutnya, ritual ini menjadi pengingat kuat akan nilai kebersamaan yang telah mengakar sejak masa lampau. “Sejak dulu masyarakat Nganjuk itu kuat di kebersamaan. Ini yang harus terus dijaga untuk membangun daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam mendorong percepatan pembangunan daerah. “Ibarat lidi, kalau sendiri-sendiri tidak kuat. Tapi kalau bersatu, akan jauh lebih efektif,” imbuhnya.
Lebih dari sekadar napak tilas sejarah, peringatan Hari Jadi Nganjuk melalui Manusuk Sima diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya. “Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai persatuan dan identitas lokal menjadi kunci agar sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dalam praktik kehidupan sehari-hari,” pungkas Marhaen.
Editor: Yoyok Agusta Kurniawan