Gubernur Khofifah Ajak Muslimat NU Sidoarjo Melakukan Transformasi Digital Sektor UMKM

Yoyok Agusta
.
Minggu, 19 Juni 2022 | 19:52 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Saat Melihat Karya UMKM, Minggu (19/6/2022)

SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menngajak para ibu-Ibu yang tergabung dalam Muslimat NU Sidoarjo untuk ikut meningkatkan sektor ekonomi melalui UMKM.

Salah satunya dengan mengikuti beragam pelatihan untuk menambah keahlian berwirausaha khususnya berbasis digital.

Menurutnya, keterlibatan Muslimat NU sangat penting, karena mengutip Jack Ma, taipan pendiri Alibaba, diprediksi pada tahun 2030 sekira 99 persen UMKM akan menjadi online.

"Stand UMKM ini produknya beragam, ada makanan minuman, produk kulit, handycraft sampai kriya. Maka saya rasa potensi ibu-ibu termasuk Muslimat NU yang memiliki UMKM agar bisa ikut pelatihan yang diberikan oleh Shopee Indonesia. Ada di Malang, bertempat di UPT Pelatihan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jatim," ajak Khofifah usai Pelantikan PC Muslimat NU Sidoarjo Masa Khidmat 2022-2027 di Gedung Serbaguna Rohmatul Ummah An Nahdiyah Sidoarjo, Minggu (19/6/2022).

"Ini sangat bagus untuk dimanfaatkan karena memang disana ada pelatihan secara komprehensif, mulai perencanaan berusaha, fotografi, proses pemasaran melalui live streaming sampai managemen logistik dan konsultasi usaha dengan mentor dan trainer terlatih ," tambahnya.

Khofifah menegaskan, upaya pemberian pelatihan kepada para pelaku UMKM di Jatim adalah upaya untuk menghadirkan kontribusi sesuai prediksi Pricewaterhouse Cooper yang mengatakan bahwa di Tahun 2050 Indonesia akan menjadi negara Raksasa Ekonomi nomor 4 terbesar di dunia.

"Jadi kita diprediksi pada tahun 2050 akan mampu menjadi raksasa ekonomi nomor 4 terbesar di dunia. Karenanya ibu-ibu Muslimat NU juga harus ambil peran, salah satunya dengan meningkatkan kontribusi UMKM di Jatim," tandasnya.

Ketua Umum PP Muslimat NU ini tak luput pula mengajak seluruh anggota Muslimat NU Sidoarjo untuk mengakrabkan diri dengan media digital. Sebab, banyak informasi yang masuk melalui media sosial tidak tersaring kebenarannya.

Hal tersebut selaras pula dengan kewajiban Kyai dan Bu Nyai untuk turut melakukan dakwah pada media digital.

"Jadi Kyai dan bu Nyai harus ambil bagian dalam memerangi kabar bohong, ujaran kebencian, yang menjamur di media sosial yang dapat menganggu persaudaraan dan persatuan ummat," pungkasnya.

Editor : Yoyok Agusta Kurniawan

Follow Berita iNews Sidoarjo di Google News

Bagikan Artikel Ini