Beberapa bagian seperti serambi depan dan sisi kiri merupakan tambahan untuk menampung jumlah jamaah yang semakin bertambah. Renovasi besar terakhir tercatat dilakukan pada tahun 1880. Meski telah berusia lebih dari dua abad, karakter arsitektur tradisionalnya tetap dipertahankan.
Pengurus masjid, Haikal Asfari, mengatakan sejumlah peninggalan bersejarah masih digunakan hingga sekarang. “Beberapa benda peninggalan yang masih ada dan digunakan di antaranya bedug asli, mimbar lama, serta tombak dwisula bermata dua yang biasanya dibawa saat khotbah Jumat. Semua itu kami rawat karena menjadi bagian dari sejarah masjid ini,” ujar Haikal saat ditemui di kompleks masjid, Jumat (26/2/2026).
Ia menambahkan, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan perjuangan pada masanya. “Masjid ini menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di Blitar Raya. Dari sini dulu kegiatan mengaji, musyawarah, hingga pembinaan masyarakat dilakukan. Nilai sejarahnya sangat besar bagi kami,” imbuhnya.
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H/2026, Masjid Kuningan Pondok Kidul tetap menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat sekitar. “Pada Ramadan tahun ini, masjid tetap digunakan untuk salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Alhamdulillah, jamaahnya selalu ramai, terutama anak-anak dan remaja,” pungkas Haikal.
Editor : Aini Arifin
Artikel Terkait
