Bingung Cari KB-TK untuk Anak? Berikut Tips Memilih Sekolah dari Pengamat Pendidikan Jawa Timur
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Musim pendaftaran peserta didik baru tingkat TK dan pendidikan anak usia dini telah dimulai. Berbagai hal menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih lembaga pendidikan yang berkualitas bagi anak-anaknya.
Adanya pemberitaan negatif tentang lembaga penitipan balita maupun tempat pendidikan anak usia dini, menjadi perhatian serius orang tua. Lalu harus bagaimana orang tua memilih lembaga yang baik, bertanggung jawab sekaligus berkualitas bagi anak-anaknya?.
Simak tips yang diberikan oleh Wiwik Wahyuningsih, salah satu pengamat sekaligus praktisi lembaga pendidikan di Jawa Timur. Pagi itu, Fatkhy, seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Sukodono, sedang berbahagia. Anaknya yang ketiga, Fatih, telah lulus dari KB-TK Islam As Sakinah yang berada di desa Kebon Agung, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.
Bukan hanya lulus, Fatih juga telah hafal hampir separuh juz 30, yang berisi surat-surat pendek dalam Al Quran. Tak hanya itu, di sekolah Fatih dan teman-temannya juga banyak belajar tentang adab. Terutama hormat kepada orang tua dan gurunya. Apa yang dirasakan Fatkhy kali ini bukan tanpa perjuangan. Dua tahun lalu, ia benar-benar pusing karena harus selektif dalam memilih sekolah untuk anak balitanya.
Menurutnya, pembentukan karakter anak, lebih penting dibandingkan kemampuan akademik seperti membaca maupun berhitung. Maka ia mencari lembaga pendidikan yang berfokus pada pembentukan akhlak dan karakter anak didiknya. “Saya berfikir, karakter anak harus dibentuk sejak usia dini. Maka kita harus benar-benar mempertimbangkan pilihan sekolah untuk anak kita,” ujar Fatkhy.
Selaras dengan itu, pengamat pendidikan Jawa Timur yang juga kepala sekolah di SMP Untag Surabaya, Wiwik Wahyuningsih mengatakan bahwa orang tua tidak bisa mempertaruhkan pendidikan anaknya, terutama saat usia dini. Peserta didik pada kelompok bermain maupun TK merupakan anak-anak yang berada pada masa golden age, sehingga perkembangannya fisik dan intelektualnya harus seimbang.
Untuk itu, Wiwik memberikan beberapa tips, agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya ke lembaga pendidikan usia pra sekolah.
1. Profil dan kondisi sekolah
Profil sekolah menjadi perhatian utama karena terkait dengan kejelasan lembaga pendidikan tersebut. Sementara kondisi sekolah ini terkait dengan kelayakan bangunan serta hubungan sekolah dengan lingkungan sekitarnya. Dua hal itu setidaknya bisa menjadi jaminan keselamatan peserta didik serta keprofesionalan para tenaga pendidiknya.
Wiwik bahkan tegas mengatakan, jika perlu ada CCTV di lingkungan sekolah, yang bisa dipantau oleh setiap wali murid melalui gadgetnya. “Pengawasan itu penting, apalagi jika berlapis. Bahkan jika perlu ada CCTV di lingkungan sekolah, yang bisa diakses kapan saja,” ujarnya.
2. Rekam jejak Sekolah
Nomor dua adalah rekam jejak sekolah, atau riwayat sekolah bersangkutan. Hal ini bisa diketahui dari para orang tua alumni, maupun alumni sendiri. Rekam jejak menjadi pertimbangan untuk memilih lembaga pendidikan pra sekolah, sebab dari situ bisa dilihat kualitas lulusan serta keprofesionalan lembaga pendidikan bersangkutan. “Riwayat sekolah itu perlu diperhatikan.
Misalnya, sekolah yang muridnya sering berprestasi, juga menjadi pilihan banyak orang tua. Meski tentu saja itu bukan patokan utamanya” ujar Wiwik.
3. Tenaga Pengajar dan Kurikulum Pendidikan
Faktor ketiga adalah profesionalitas dan integritas para pengajarnya. Disini orang tua harus bisa melihat seberapa besar integritas para pengajar di lembaga pendidikan yang akan dipilih. Hal itu bisa diketahui dari para alumni, orang tua alumni, hingga data pengajar yang ada di sekolah tersebut. “Orang tua juga harus berani bertanya kepada lembaga pendidikan yang dituju, tentang profil pengajarnya,” jelas Wiwik.
“Kemudian juga terkait kurikulum pendidikannya. Kalau bisa carilah yang mengutamakan pembentukan karakter anak, sebab itu sangat penting bagi usia dini,” imbuhnya.
4. Biaya
Sementara terakhir adalah biaya. Hal ini penting menjadi pertimbangan, sebab para orang tua harus bisa menakar dan mengukur kemampuan, agar bisa menyekolahkan anaknya dengan baik. Hal itu bukan tentang kaya atau miskin, namun soal tanggung jawab orang tua terhadap kelangsungan pendidikan anaknya. “Faktanya banyak orang tua yang tidak memperhatikan pembayaran iuran bulanan bagi anaknya. Itu kan kasihan anaknya. Dampaknya tentu kepada lembaga pendidikan yang ada,” ujar Wiwik.
“Intinya orang tua juga harus tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Salah satunya dengan membayar biaya pendidikan itu,” pungkas Wiwik. Empat faktor itu bisa menjadi pertimbangan bagi orang tua sebelum memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan pra sekolah, seperti Kelompok Bermain maupun Taman kanak-kanak.
Dengan mempertimbangkan segala aspek itu, diharapkan proses pembelajaran dan tanggung jawab orang tua pada pendidikan anaknya, bisa berjalan harmonis serta memperoleh hasil maksimal.
Editor : Aini Arifin