get app
inews
Aa Text
Read Next : Dugaan Korupsi Bendungan Margopatut, Sekda Nganjuk Diperiksa Kejari

Boyong Natapraja 2026, Kereta Kuda dan Pusaka Kabupaten Nganjuk Jadi Perhatian Warga

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:17 WIB
header img
Arak-arakan Nataoraja. Foto:ist

NGANJUK , iNewsSidoarjo.id - Arak-arakan kereta kuda dalam prosesi Boyong Natapraja menarik perhatian ribuan warga yang memadati jalur utama Nganjuk - Sawahan, Sabtu (6/6/2026). Prosesi budaya tahunan tersebut mengambil rute dari Alun-Alun Kecamatan Berbek menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk sebagai refleksi perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk pada 6 Juni 1880.

Rombongan diawali dengan kereta yang membawa pusaka Kabupaten Nganjuk, yakni Jurang Penatas dan Tunggul Wulung. Di belakangnya, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bersama istri, Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro beserta istri, serta jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan pasangan masing-masing turut mengikuti arak-arakan dengan mengenakan busana adat.

Sepanjang perjalanan, masyarakat tampak berjejer di sisi jalan untuk menyaksikan prosesi yang menjadi salah satu agenda budaya tahunan di Kabupaten Nganjuk tersebut. Kehadiran rombongan kereta kuda dan iring-iringan peserta bernuansa tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi warga.

Prosesi Boyong Natapraja digelar untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk yang terjadi pada 6 Juni 1880. Pada tahun ini, peristiwa bersejarah tersebut genap berusia 146 tahun. Peringatan Boyong Natapraja sendiri tercatat pertama kali diselenggarakan pada 1930 atau 50 tahun setelah perpindahan pusat pemerintahan berlangsung.

Sebelum memberangkatkan rombongan, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar pembangunan daerah. "Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Selain memperingati Boyong dan Sedekah Bumi dari Berbek ke Nganjuk, tanggal 6 Juni juga istimewa karena merupakan hari lahir Bung Karno," ujar Marhaen.

Menurutnya, pelaksanaan Boyong Natapraja bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya merawat nilai sejarah dan budaya yang menjadi bagian dari identitas Kabupaten Nganjuk. "Semangat perjuangan para pendahulu harus terus dilanjutkan. Salah satunya melalui pelestarian budaya dan sejarah yang menjadi warisan daerah," tuturnya.

Setibanya di Pendopo Kabupaten Nganjuk, rangkaian Boyong Natapraja dilanjutkan dengan prosesi adat sebagai penutup kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk.

Editor : Yoyok Agusta Kurniawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut