Masjid Kuningan Pondok Kidul, Berdiri Sejak 1823, Jejak Dua Abad Syiar Islam di Kabupaten Blitar
BLITAR, iNewsSidoarjo.id – Di tengah padatnya pemukiman warga di wilayah Jawa Timur, berdiri kokoh sebuah masjid tua yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang syiar Islam di Blitar Raya.
Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Kuningan Pondok Kidul atau Masjid Nurul Huda Kuningan Selatan ini diyakini telah dibangun sekitar tahun 1823 dan disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kabupaten Blitar. Keberadaan masjid ini bahkan dipercaya lebih dahulu dibanding Masjid Agung Kota Blitar yang didirikan sekitar tahun 1895.
Hal tersebut menjadikan Masjid Kuningan sebagai penanda penting perkembangan Islam di wilayah tersebut. Masjid bersejarah ini terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Di balik suasana perkampungan yang tenang, bangunan sederhana namun sarat nilai sejarah ini tetap terawat dan aktif digunakan hingga kini.
Menurut catatan sejarah lokal, masjid ini didirikan oleh dua tokoh yang disebut sebagai bagian dari pasukan khusus Pangeran Diponegoro, yakni Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. Keduanya memiliki hubungan keluarga, di mana Syekh Abu Hasan merupakan mertua dari Syekh Abu Mansur.
Kedatangan mereka ke Blitar tidak hanya untuk menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga dalam konteks perjuangan melawan penjajahan Belanda pada masa itu. Jejak dakwah sekaligus semangat perlawanan itulah yang kemudian melekat dalam sejarah berdirinya masjid ini. Hingga kini, bangunan utama masjid masih mempertahankan struktur aslinya.
Beberapa bagian seperti serambi depan dan sisi kiri merupakan tambahan untuk menampung jumlah jamaah yang semakin bertambah. Renovasi besar terakhir tercatat dilakukan pada tahun 1880. Meski telah berusia lebih dari dua abad, karakter arsitektur tradisionalnya tetap dipertahankan.
Pengurus masjid, Haikal Asfari, mengatakan sejumlah peninggalan bersejarah masih digunakan hingga sekarang. “Beberapa benda peninggalan yang masih ada dan digunakan di antaranya bedug asli, mimbar lama, serta tombak dwisula bermata dua yang biasanya dibawa saat khotbah Jumat. Semua itu kami rawat karena menjadi bagian dari sejarah masjid ini,” ujar Haikal saat ditemui di kompleks masjid, Jumat (26/2/2026).
Ia menambahkan, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan perjuangan pada masanya. “Masjid ini menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di Blitar Raya. Dari sini dulu kegiatan mengaji, musyawarah, hingga pembinaan masyarakat dilakukan. Nilai sejarahnya sangat besar bagi kami,” imbuhnya.
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H/2026, Masjid Kuningan Pondok Kidul tetap menjadi pusat kegiatan ibadah masyarakat sekitar. “Pada Ramadan tahun ini, masjid tetap digunakan untuk salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Alhamdulillah, jamaahnya selalu ramai, terutama anak-anak dan remaja,” pungkas Haikal.
Editor : Aini Arifin