Ricuh Eksekusi Tembok Mutiara Regency Sidoarjo, Warga Terluka dan Ancam Lapor Polisi
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Upaya Satpol PP Sidoarjo merobohkan tembok pembatas antara Perumahan Mutiara Regency dan Mutiara City berujung ricuh, Kamis (29/1). Ketegangan yang semula diwarnai adu mulut berubah menjadi aksi saling dorong hingga menyebabkan sejumlah warga terluka.
Kericuhan pecah saat alat berat ekskavator mulai mendekati tembok pembatas yang berada di perbatasan Desa Banjarbendo dan Desa Jati. Ratusan warga Mutiara Regency yang menolak pembongkaran berusaha menghadang petugas. Dalam kondisi berdesakan, beberapa warga terjatuh dan terinjak-injak. Bahkan, seorang ibu sempat melempar kursi plastik ke arah petugas karena emosi memuncak.
Naning, warga Mutiara Regency, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pembongkaran tembok tersebut. Ia menilai, hilangnya konsep one gate system akan berdampak langsung pada keamanan lingkungan perumahan yang selama ini menjadi alasan utama warga memilih tinggal di sana. “Gak setuju! Dia (Mutiara City) loh, bikin perumahan segitu besarnya, warganya itu sekitar 1.000. Di sini cuma 300 warga,” ungkap Naning dengan nada geram.
Menurutnya, persoalan akses jalan seharusnya menjadi tanggung jawab pengembang sebelum membangun kawasan hunian. Ia menilai pembukaan akses melalui Mutiara Regency bukan solusi yang adil bagi warga. “Itu di mana-mana gitu, ndak ada perumahan yang ndak bikin jalan. Harusnya ya disiapkan dari awal,” tambahnya.
Terkait adanya warga yang mengalami luka-luka akibat aksi dorong-mendorong, Naning menegaskan bahwa pihak yang melakukan tindakan anarkis harus bertanggung jawab. “Kalau ada yang luka, dia harus bertanggung jawab! Biaya rumah sakit,” tegasnya.
Sementara itu, kisah lebih pilu dialami Bagus, warga Mutiara Regency yang tinggal di blok A1-36. Rumahnya berada tepat di sudut perumahan dan paling terdampak langsung akibat pembongkaran tembok.
Ia mengaku menjadi korban kekerasan fisik saat mencoba meminta dialog sebelum eksekusi dilakukan. “Maksud saya itu hanya minta dialog dulu, menahan aparat supaya bisa bicara baik-baik. Tapi yang terjadi di lapangan apa? Saya malah diseret, dituduh provokator, dilakukan secara anarkis, pemukulan,” keluh Bagus.
Bagus juga menyoroti keterlibatan warga dari luar perumahan yang diduga ikut melakukan kekerasan terhadap dirinya. Hal tersebut membuatnya menduga adanya skenario tertentu dalam proses eksekusi. “Ada warga namanya Pak Samsul, guru ngaji di kampung belakang, ikut eksekusi mukul saya. Berarti kan ini terjadi sesuatu yang diskenariokan,” ujarnya.
Tak terima dengan perlakuan tersebut, Bagus memastikan akan menempuh jalur hukum. Ia berencana melaporkan dugaan kekerasan yang dialaminya kepada pihak kepolisian. “Pasti hari ini juga saya akan melakukan laporan,” tegasnya.
Meski mendapat perlawanan sengit dari warga, termasuk aksi memarkirkan mobil untuk menghalangi akses alat berat, petugas akhirnya tetap berhasil merobohkan tembok pembatas yang menjadi sumber konflik tersebut.
Editor : Aini Arifin