Kisah Pasutri di Sidoarjo, Hanya 5 Menit Mbeteti Ikan Bandeng Tanpa Sisa Duri demi Pendidikan Anak
SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id – Matahari sudah separuh lengser ke barat, saat saya memutuskan turun dari motor, ketika melihat lelaki dan perempuan paruh baya sedang fokus menyiangi ikan bandeng (mbeteti ikan, dalam bahasa jawa) di depan rumah mereka, tepi jalan Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Selasa 27/1/2026.
Ternyata tak hanya menyiangi dan membersihkan kotorannya, mereka berdua juga sedang bekerja sama membersihkan duri ikan bandeng. Lelaki dan perempuan itu ternyata suami istri. Sugiarti, menyayat daging dan “membuat jalan” di bagian dalam tubuh bandeng, agar duri-durinya jelas terlihat.
Sementara sang suami, Madenan, bertugas mencabuti ratusan duri yang ada di dalam daging satu ekor ikan bandeng. Pekerjaan jelimet bin rumit itu bisa diselesaikan pasutri tersebut dalam waktu kurang lebih lima menit, untuk satu ekor ikan bandeng. Dalam hati, saya hanya bisa membayangkan betapa keterampilan itu sungguh unik, tanpa berani menakar waktu yang mungkin saya butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan serupa mereka.

Keluarga Pasangan suami istri Madenan dan Sugiarti adalah dua diantara ratusan orang yang memiliki keterampilan mencabuti duri bandeng, di desa Tambak Cemandi serta desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo.
“Sudah 15 tahunan saya bekerja mencabuti duri bandeng ini. Awalnya beberapa orang di desa ini mendapat pelatihan dari Dinas Perikanan Sidoarjo, dan semakin tahun jumlahnya tambah banyak,” ujar Sugiarti, yang oleh warga sekitar maupun pelanggannya dikenal akrab dengan nama Preti.
Seiring dengan banyaknya warga yang memiliki keterampilan itu, pelanggan Preti mulai menurun jumlahnya. “Dahulu, masih banyak orang yang mencabutkan duri bandeng yang diperoleh dari memancing di tambak maupun kolam pemancingan. Saat ini karena semakin banyak yang bisa, pelanggan saya juga berkurang,” sambung Sugiarti. “Namun saya tetap bersyukur. Kalau hari biasa, paling bisa 10 ekor bandeng yang dicabutkan durinya. Tapi saat sabtu, minggu atau hari libur, saya bisa mencabuti duri 100 ekor ikan bandeng, ” tambah Preti sembari menyeka keringat di dahinya.
Untuk satu ekor ikan bandeng, Sugiarti mematok harga 3.000 hingga 4.000 rupiah per ekor, tergantung besar kecilnya ukuran ikan. Usai dicabutkan durinya, pelanggan biasanya membawa ikan tersebut ke sejumlah warung makan di sekitar kolam pemancingan.
“Biasanya ikan bandeng tanpa duri itu langsung dibakar di warung untuk makan bersama, dan sebagian yang mentah dibawa pulang,” pungkas Preti.
Bagi Madenan dan Sugiarti yang rumahnya berada di sekitar wisata kolam pemancingan bandeng desa Tambak Cemandi, upah jasa mencabutkan duri bandeng, mampu menopang kebutuhan keluarga sehari-hari. “Alhamdulillah, cukup saja Mas. Bahkan saya juga bisa memasukkan anak saya yang perempuan ke Pesantren di Mojosari,” ujar Perempuan 43 tahun tersebut.
Mencabuti Duri Bandeng Butuh Ketelatenan Memiliki keahlian mencabuti duri bandeng, mungkin tak pernah dibayangkan Sugiarti. Belasan tahun lalu, ia memulainya dengan mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Perikanan Sidoarjo. Dahulu kala, ikan bandeng yang menjadi komoditas perikanan utama kabupaten Sidoarjo, hanya diolah menjadi aneka masakan, tanpa menghilangkan durinya.
Namun sejak sekitar tahun 2006, para warga terutama ibu-ibu di desa Kalanganyar dan Tambak Cemandi, diberikan pelatihan mencabuti duri bandeng. Alhasil, dengan semakin banyaknya warga yang ahli mencabut duri bandeng, instansi terkait memberdayakan warga tersebut untuk melatih warga lain di Kabupaten Sidoarjo, bahkan hingga luar Jawa.
Meski terkesan sederhana dengan bekal pisau dan pinset kecil, namun ternyata keterampilan ini membutuhkan keseriusan, ketelitian dan ketelatenan. Jika tidak telaten, bisa-bisa daging ikan bandeng rusak dan banyak terbuang karena tidak pas menyayat jalur duri di dalam tubuh ikan. “Saya pernah beberapa kali diajak mengisi pelatihan cabut duri bandeng, hingga ke Bali dan Kalimantan,” kata Sugiarti.
“Di Kalimantan pernah ada di sebuah tempat, yang ikut pelatihan 10 orang, namun yang akhirnya berhasil hanya satu,” imbuh Preti sembari tersenyum. “Memang sulit Mas, harus sabar dan teliti,” ujar Madenan.
Mencabuti duri bandeng dimulai dengan membersihkan sisiknya, membelah lebar tubuh ikan, lalu membersihkan kotoran dan mencucinya hingga bersih. Setelah itu, barulah proses utama pencabutan duri dilakukan. Pertama kali, patahkan tulang punggung di pangkal ekor, lalu ditarik ke arah kepala. Bagian itu menjadi penopang duri-duri besar. Setelah berhasil ditarik, barulah sisa-sisa duri besar dicabuti menggunakan pinset.
Setelah area duri besar, pencabutan duri dilakukan di bagian daging yang memiliki duri-duri halus. “Proses ini membutuhkan fokus dan kejelian Mas, agar dagingnya tidak rusak atau hancur,” ujar Madenan. “Kita harus tahu daging mana yang menjadi jalur duri halus. Setelah ketemu, dagingnya disayat dengan pisau kecil, lalu duri-duri halus dicabuti dengan pinset. Total duri bandeng ada 164,” imbuh Madenan.

Masakan Olahan Bandeng Tanpa Duri Jadi Favorit Wisatawan
Bandeng Sidoarjo yang memiliki ciri fisik bibir merah dan punggung hitam, dikenal enak rasanya dan tidak bau tanah. Hal tersebut karena petani tambak memperhatikan benar sirkulasi air di tambak air payau.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Sidoarjo, pada tahun 2024 luas tambak di Sidoarjo mencapai 14 ribu hektar lebih, dengan potensi hasil lebih dari 81 juta kilogram, yang sebagian besar adalah ikan bandeng.
Dengan hasil ikan bandeng yang sangat besar, berbagai sektor penopang olahan jenis ikan air payau tersebut sangat berpotensi meningkatkan perekonomian warga, terutama di sekitar area tambak. “Semoga jasa pencabutan duri bandeng di wilayah ini bisa terus ada Mas. Lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” harap Sugiarti sembari tersenyum.
Editor : Aini Arifin