Hadapi Ancaman El Nino, Petani Kopi Blitar Timur Didorong Tingkatkan Kualitas Tembus Pasar Global

Yoyok Agusta
Aneka produk kopi hasil dari petani kabupaten Blitar dipamerkan untuk menjangkau pasar lebih luas. Foto:ist

BLITAR, iNewsSidoarjo.id – Potensi kopi dari wilayah pesisir timur Kabupaten Blitar mulai mendapat panggung lebih luas. Para petani dan pelaku UMKM kopi memamerkan hasil pertanian mereka dalam kegiatan Merdeka Coffee Trail Run di Desa Wisata Kemiri Gede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Minggu (23/8/2026).

Tak hanya memamerkan produk kopi, kegiatan tersebut juga diwarnai adu ketangkasan meracik kopi susu. Kompetisi ini menjadi salah satu upaya mengenalkan kopi lokal, sekaligus mendorong generasi muda memahami cara mengolah dan menyajikan kopi dengan tepat.

Inisiator kegiatan, Erma Susanti, S.E., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membuktikan bahwa kopi dari Blitar Timur memiliki kualitas yang layak diperhitungkan.

Para petani diminta mengirimkan sampel hasil panen untuk dinilai oleh kurator bersertifikat. “Petani-petani itu kita minta mengirimkan sampling hasilnya. Kemudian kita nilai. Ada kurator yang bersertifikat, kemudian nanti kita umumkan bahwa kopi-kopi dari Blitar Timur ini ternyata kualitasnya bagus,” ujar Erma.

Menurut Erma, peningkatan kualitas kopi tidak bisa hanya dilakukan dari sisi petani. Pendampingan juga harus menyentuh sektor hilir, termasuk para barista yang menjadi ujung tombak penyajian kopi kepada konsumen. “Sebelumnya saya juga melakukan pelatihan di hilirnya, barista. Kemudian di hulunya, di petani kopinya, juga sudah dilakukan pendampingan-pendampingan baik oleh provinsi maupun kabupaten,” jelasnya.

Erma yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan itu, menilai komoditas kopi masih memiliki prospek ekonomi yang panjang.

Menurut dia, momentum meningkatnya permintaan kopi harus dimanfaatkan dengan terus menjaga produksi dan meningkatkan kualitas. Terlebih, petani Indonesia dinilai memiliki peluang menghadapi tantangan perubahan iklim yang mengancam negara-negara penghasil kopi lainnya. “Sekarang inilah masa-masa yang cukup booming dan saya yakin 10 tahun, 20 tahun masih bagus harganya, kita pun juga bisa bersaing,” katanya.

Selain robusta, Blitar juga memiliki peluang mengembangkan kopi arabika. Erma menyebut kopi arabika memiliki nilai ekonomi tinggi dan saat ini banyak diminati kedai-kedai kopi. “Arabica itu kan sekarang yang lagi in. Satu kilo itu hampir Rp300.000. Dan sekarang coffee shop yang Arabica itu yang dicari orang,” ungkapnya.

Ia mengatakan harga tersebut sejalan dengan karakteristik arabika yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Bahkan, harga secangkir kopi arabika di kedai tertentu dapat mencapai lebih dari Rp50 ribu.

Potensi pengembangan arabika juga mulai terlihat di wilayah Doko. Namun, penanamannya membutuhkan kondisi geografis tertentu, terutama ketinggian lahan.“Kita ada satu di Doko, tadi ada yang dipamerkan. Mudah-mudahan ini bisa meluas karena memang harus ditanam di ketinggian 1.000 meter. Kalau di bawah 1.000 meter tidak bisa,” jelas Erma.

Menurutnya, wilayah Blitar yang memiliki ketinggian sesuai dapat diarahkan untuk pengembangan arabika. Dengan demikian, komoditas kopi Blitar tidak hanya mengandalkan robusta. “Jadi ini menjadi potensi kita, tidak hanya robusta tapi juga arabika,” imbuhnya.

Pengembangan kopi Blitar, lanjut Erma, juga harus menyentuh sektor sumber daya manusia. Salah satunya melalui pendidikan barista bagi anak-anak muda.

Ia mengapresiasi SMK Doko yang telah memiliki pembelajaran barista. Menurutnya, keterampilan tersebut membuka peluang bagi lulusan untuk masuk ke industri kreatif, khususnya sektor kedai dan pengolahan kopi. “Kalau barista banyak anak-anak muda yang bergelut di industri kreatif. Ini kan masuk industri kreatif, kopi-kopian ini. Maka ini bisa mengembangkan,” katanya.

Pelatihan barista dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mampu membuat kopi, tetapi juga memahami teknik penyajian yang tepat, mulai dari espresso hingga berbagai jenis kopi susu kekinian. “Jadi mereka tahu cara menyajikan yang benar bagaimana, espresso kemudian termasuk kekinian kopi susu dan sebagainya. Itu ada lombanya juga biar ramai, sehingga akhirnya mereka juga paham cara menyajikan kopi yang enak, yang bagus,” ungkapnya.

Erma berharap peningkatan keterampilan di sektor hilir tersebut dapat berdampak langsung terhadap kualitas rasa sekaligus nilai jual kopi Blitar. “Ini untuk meningkatkan kualitas rasanya sehingga tentunya harganya juga menjadi lebih tinggi. Jadi ini yang harus dilakukan pemerintah untuk mendampingi dan kemudian kopi Blitar bisa lebih terangkat lagi,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Khusna Lindarti, memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Nggogoh Niti, Kecamatan Kesamben, yang dinilai mampu menggelar kegiatan pengembangan kopi dengan baik. “Apresiasi yang setinggi-tingginya untuk masyarakat wilayah Desa Nggogoh Niti, Kecamatan Kesamben ini karena hari ini telah mampu melaksanakan kegiatan yang betul-betul luar biasa,” ujarnya.

Ia mengatakan Pemkab Blitar telah memberikan berbagai bentuk dukungan kepada petani kopi. Bantuan tersebut di antaranya berupa bibit dan pupuk melalui perangkat daerah terkait. “Kita memberikan bantuan ke para petani kopi itu banyak. Pernah memberikan bibit juga lewat Dinas Pertanian. Kemudian selain itu juga pupuk,” jelas Khusna.

Tak hanya bantuan sarana produksi, pemerintah juga memberikan pendampingan melalui berbagai pelatihan yang mencakup seluruh rantai produksi kopi, mulai dari hulu hingga hilir. “Pelatihan-pelatihan mulai dari hulu sampai ke hilir. Artinya mulai dari penanamannya, pemeliharaannya, kemudian pascapanennya itu kita juga terus mendampingi,” katanya.

Pemkab Blitar juga berupaya memperluas pemasaran kopi lokal dengan membawa produk kopi daerah dalam berbagai pameran. Produk kopi Blitar juga diperkenalkan kepada para pelaku industri kopi dari luar daerah hingga mancanegara. “Kita sering membawa ke pameran, kita juga sering memperkenalkan dengan para pelaku-pelaku kopi dari luar negeri. Artinya bahwa di wilayah Kabupaten Blitar ini banyak juga yang sebagai pemasok untuk ekspor kopi,” pungkas Khusna.

Dalam Event Merdeka Coofee Trail Run yang dikemas dalam Cultur And Sport Tourism Festival itu, tidak saja diikuti warga Blitar, Namun banyak peserta yang datang dari luar Blitar, seperti Malang, Surabaya. Bahkan, banyak perserta yang datang dari Solo, Jawa Tengah.

Editor : Hidayat Adi

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network