SIDOARJO, iNewsSidoarjo.id - Dari sebuah studio sederhana yang dibangun sendiri sejak awal 2000-an, seniman kontemporer asal Sidoarjo, Jumaadi, berhasil menembus panggung seni internasional. Karyanya kini tidak hanya dipamerkan di galeri komersial, tetapi juga dipercaya tampil di museum-museum bergengsi dunia.
Sekadar diketahui, karya Jumaadi menggabungkan antara lukisan dan performans. Karya-karyanya menggambarkan makhluk-makhluk riang dan penuh khayalan yang menyampaikan cerita intrinsik atas sejarah dan identitasnya. Jumaadi menceritakan, perjalanan panjangnya di dunia seni rupa telah berlangsung sejak 2004.
Dalam kurun waktu tersebut, ia telah menggelar hampir 40 pameran tunggal di berbagai negara, diantaranya di Perth, Australia. “Pameran tunggal itu sudah hampir ke-40 sejak 2004. Jadi kurang lebih sudah 22 tahun perjalanan saya,” ujarnya saat ditemui di studionya di Dusun Pecantingan, Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo Kota, Kamis 23 April 2026.
Pada tahun 2026 ini saja, Jumaadi telah menjalani sejumlah agenda penting, mulai dari pameran tunggal, pameran museum, hingga art fair internasional. Salah satu pencapaian terbarunya adalah keterlibatan dalam pameran di museum nasional di Busan, Korea Selatan, serta museum di Shanghai, Tiongkok.
Tak hanya itu, ia juga tampil dalam ajang art fair di Hong Kong bersama galeri yang merepresentasikannya, ISA Gallery Jakarta. Dalam satu tahun, ia mencatat sedikitnya empat agenda besar: satu pameran tunggal, dua pameran museum, dan satu art fair. Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara galeri komersial dan galeri publik.
Bersama sejumlah rekannya, Jumaadi mengerjakan karya seni di galeri sederhananya di Sidoarjo. Foto: Hidayat Adi.
Galeri komersial berorientasi pada penjualan karya, sementara galeri publik seperti museum lebih menitikberatkan pada apresiasi seni dan sering kali didukung oleh pendanaan institusi. “Kalau di negara maju, museum kota atau nasional biasanya punya anggaran untuk mendukung seniman, termasuk dari riset hingga pameran,” jelasnya.
Kepercayaan dari institusi besar itu bukan tanpa alasan. Jumaadi dikenal konsisten menjaga identitas karyanya yang berbasis teknik manual, meskipun kini mulai berkolaborasi dengan teknologi seperti proyektor dan sistem komputerisasi.
Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi tidak boleh menghilangkan karakter utama karyanya. “Teknologi itu alat, bukan yang menguasai. Karya saya tetap berbasis handmade, itu identitas yang tidak bisa dilepas,” tegasnya.
Saat ini, Jumaadi tengah mempersiapkan pameran tunggal di museum pada Juni mendatang, serta proyek instalasi dan pertunjukan berskala besar di Australia pada bulan November. Proyek tersebut melibatkan proses panjang, mulai dari riset, penulisan naskah, hingga produksi yang memakan waktu hampir dua tahun. “Saya fokus di sisi artistik sebagai sutradara. Untuk manajemen dan administrasi, itu ditangani tim profesional,” katanya.
Jumaadi tinggal dan menetap di Sydney, Australia hingga sekarang. Di balik pencapaian global tersebut, Jumaadi tetap kembali ke akar: studionya di Sidoarjo. Studio yang dibangunnya sendiri sejak 2001 itu menjadi ruang utama lahirnya ide dan karya-karya yang kini mendunia. “Studio ini saya bangun sendiri. Dari sinilah semuanya berangkat,” ujarnya.
Kisah Jumaadi menjadi bukti bahwa karya seni berkelas internasional tidak selalu lahir dari tempat megah. Dari ruang sederhana di Sidoarjo, ia mampu menembus batas geografis dan membawa nama Indonesia ke panggung seni dunia.
Editor : Aini Arifin
Artikel Terkait
