Bila menghadapi situasi tersebut, dr. Nur menyebutkan, orangtua harus segera berkonsultasi dengan dokter anak, maupun psikolog klinis anak. “Selanjutnya anak harus mengikuti terapi secara rutin dan feeding rules dengan prinsip pola makan anak yang sehat dan teratur untuk membantu tumbuh kembangnya” jelas dr. Nur Alfiani.
Arum Cahya, seorang ibu muda asal kecamatan Sukodono mengisahkan pengalamannya memiliki anak yang mengalami picky eater, alias pilih-pilih makanan. “Saya bingung, anak saya yang nomor dua, sejak menjelang usia 5 tahun lalu, tidak mau makan nasi. Konsumsinya hanya tempe, tahu, dan daging ayam. Namun, menu itu tidak mau dimakan di hari berikutnya. Dia baru mau makan menu serupa, seminggu kemudian,” ucapnya.
Menghadapi perilaku anaknya tersebut Arum direkomendasikan untuk berkonsultasi kepada dokter dan psikiater. “Saya dianjurkan untuk berkonsultasi kepada dokter spesialis anak, atau ke psikologis anak, serta ahli gizi, agar pola makan anak saya yang sekarang berusia 6 tahun, kembali normal,” ungkap Arum.
Usai mendapatkan pengetahuan dalam seminar tentang picky eater. Para peserta juga mengikuti lomba menghias menu bekal sehat untuk anak. “Penilaian yang utama adalah keseimbangan gizi, cita rasa, kreativitas dan kerapihan,” jelas dr. Helmy Uung Muharromi, Kepala Sub. Bagian Pelayanan Medis, RSU Assakinah Medika Sidoarjo.
Selain pengetahuan dan sikap bijaksana saat menghadapi anak yang picky eater, orang tua juga diharapkan bisa meningkatkan nafsu makan anak, untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. “Guna menambah nafsu makan anak, ada tiga poin utama, yang meliputi feeding rules yang berakar dari pola makanan sehat yang teratur, lingkungan yang memadai, serta dukungan orangtua,” pungkas dr. Helmy.
Editor : Aini Arifin
Artikel Terkait
