Jalur KA di Kawasan Lumpur Sidoarjo Kritis, DJKA Siapkan Relokasi Sebelum Musim Hujan
SIDOARJO - Jalur kereta api yang melintasi kawasan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Setelah dua dekade terus mengalami penurunan tanah dan berulang kali ditinggikan, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menilai penanganan rutin tak lagi cukup. Relokasi jalur hingga penyusunan skenario tanggap darurat pun mulai disiapkan.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya Denny Michels Adlan mengatakan, peninjauan yang dilakukan Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono bersama jajaran DJKA merupakan tindak lanjut atas pernyataan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) yang menetapkan kawasan tersebut sebagai daerah rawan.
Menurut Denny, kondisi jalur kereta api di kawasan Lumpur Lapindo saat ini sudah berada pada tingkat yang sangat kritis. "Peninjauan dilakukan karena jalur kereta di kawasan tersebut sudah dalam kondisi kritis. Pada 20 tahun terakhir sudah dilakukan peninggian trek hampir tiga meter dari kondisi awalnya," ujar Denny, Kamis (9/7).
Namun, upaya tersebut belum mampu mengimbangi laju penurunan tanah. Denny mengungkapkan, dalam kurun waktu 2022 hingga 2026 saja, permukaan tanah di lokasi tersebut telah mengalami penurunan sekitar satu meter. "Antara tahun 2022 sampai 2026 terjadi penurunan satu meter dari permukaan laut. Melihat kondisi tersebut, ini membuktikan bahwa stabilitas trek sudah dalam kondisi yang kritis, sehingga untuk melakukan peninggian, perbaikan, atau pengembangan infrastruktur jalur kereta api di titik tersebut sudah tidak feasible atau layak," jelasnya.
Selama ini, penanganan yang dilakukan masih sebatas perawatan rutin, seperti peninggian jalur, pemadatan lintasan secara berkala menggunakan sarana Multi Tie Tamper (MTT), serta penambahan batu balas untuk menjaga kestabilan rel.
Meski demikian, DJKA telah menyiapkan solusi jangka menengah dan panjang berupa relokasi jalur kereta api agar tidak lagi melintasi kawasan terdampak lumpur. "Untuk jangka menengah dan panjang, kami memang sudah ada perencanaan terkait relokasi melewati Sidoarjo, lalu ke Kecamatan Tulangan dan Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan," kata Denny.
Sementara itu, dalam jangka pendek, DJKA akan memperkuat koordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan pemerintah daerah untuk menyusun langkah mitigasi menghadapi berbagai kemungkinan, terutama saat musim hujan.
Salah satu fokus utama adalah penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) atau Emergency Plan baru sebagai pedoman penanganan jika terjadi kondisi darurat, seperti banjir atau penurunan tanah yang semakin parah. "Dalam tahun ini harus selesai. Mengingat dalam beberapa bulan ke depan musim hujan sudah datang, kita harus siap prepare for the worst, khususnya untuk mengantisipasi banjir. Kita tidak tahu kapasitas pompa bisa bekerja seberapa besar manakala kondisi banjir," pungkasnya.
Editor: Hidayat Adi