get app
inews
Aa Text
Read Next : Kembalikan Fungsi Hutan, Ribuan Pohon Ditanam di Kawasan Hutan Tritik Rejoso Nganjuk

Kolaborasi Multi Pihak Tanam Pohon Bernilai Ekonomi di Kawasan Hutan Madiun

Kamis, 08 Januari 2026 | 07:00 WIB
header img
Penanaman pohon di Hutan Madiun. Foto:ist.

MADIUN, iNewsSidoarjo.id - Kegiatan penanaman pohon berbasis kemitraan masyarakat digelar di kawasan Wana Salam, Desa Dagangan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Rabu (7/1/2026).

Kegiatan ini melibatkan Margowitan Model Forest, KPH Madiun, Lembaga Masyarakat Pengelola Sumber Daya Hutan (LMPSDH), komunitas Kotasejuk, serta Pusdikbang SDM Madiun.

Penanaman pohon tersebut merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas kemitraan antara masyarakat dengan kelompok tani perhutanan di kawasan hutan, melalui fasilitasi bibit-bibit bersertifikat yang memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

Ketua Margowitan Model Forest, John Noverly, mengatakan jenis tanaman yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai penghijauan, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. “Bibit yang kami fasilitasi merupakan tanaman bernilai ekonomis seperti durian unggul, alpukat, dan jambu air. Jadi bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat desa sekitar kawasan hutan,” ujarnya.

Menurut John, program tersebut tidak hanya dilaksanakan di satu lokasi. Wilayah kerja KPH Madiun-Saradan-Mantingan mencakup empat kabupaten, yakni Madiun, Ponorogo, Ngawi, dan Magetan, serta berpotensi diperluas ke wilayah lain.

Ia menambahkan, sebelum kegiatan penanaman dilakukan, pihaknya telah melaksanakan kajian melalui metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk menggali potensi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. “Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan peningkatan ekonomi melalui pengembangan tanaman buah-buahan. Karena itu, jenis tanaman disesuaikan dengan potensi wilayah dan keinginan masyarakat setempat,” jelasnya.

Selain tanaman produktif, kegiatan ini juga melibatkan penanaman bibit tanaman langka yang diperoleh dari komunitas Kotasejuk.

Pembina KotaSejuk, Kristomo, menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bentuk kolaborasi nyata antara komunitas sejarah, ekologi, dan pengelolaan hutan. “Kami berkolaborasi tidak hanya menanam pohon bersejarah, tetapi juga pohon bernilai ekonomi. Ke depan, keseimbangan antara ekologi dan ekonomi harus terus dijaga. Ekologi tanpa ekonomi tidak berjalan, namun ekonomi juga tidak boleh merusak ekologi,” katanya.

Kristomo juga menyebutkan bahwa Kotasejuk mendorong pengembangan tanaman endemik, termasuk kemenyan putih yang sebelumnya ditemukan di kawasan hutan Tritik, Nganjuk, melalui kerja sama penelitian dan penerapan teknologi pemulihan pohon.

Sementara itu, Administratur KPH Madiun, Rusydi, menegaskan bahwa Perhutani terbuka terhadap kolaborasi lintas sektoral dalam pengelolaan hutan. “Ke depan, kami akan terus meningkatkan kolaborasi dengan masyarakat, LMDH, komunitas, dan NGO. Selain pengelolaan kelas perusahaan jati dan kayu putih, kami juga mengembangkan model agroforestry berbasis kemitraan,” ujarnya.

Terkait kondisi hutan, Rusydi menyatakan bahwa kawasan hutan di wilayah Madiun relatif masih terjaga dan saat ini tengah dalam proses sertifikasi hutan lestari. “Menjaga hutan adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya Perhutani, tetapi juga masyarakat, NGO, dan aparat penegak hukum. Kolaborasi menjadi kunci agar pengelolaan hutan lestari dapat berjalan berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor : Aini Arifin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut